HEADLINNEWS.ID – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi, cuaca ekstrem masih akan berlangsung hingga lebaran nanti.
Karena itu, Ketua Komisi E DPRD Jawa Tengah Messy Widyastuti menghimbau agar warga memiliki kewaspadaan dan siap menghadapi segala potensi bencana.
Apalagi, menurutnya, Jawa Tengah termasuk wilayah yang kerap dijuluki ‘Supermarket Bencana’ karena sering mengalami berbagai macam bencana alam.
“Tentu kita sikapi dengan kesadaran kolektif. Penanganan bencana tidak bisa hanya dibebankan kepada BPBD, tetapi harus ada sinergi lintas dinas dan kolaborasi dengan masyarakat,” katanya, dalam dialog publik bertajuk “Cuaca Ekstrem Terus Berlanjut, Apa yang Harus Dilakukan?”, beberapa waktu yang lalu.
Keprihatinan Ketua Komisi E DPRD Jateng itu juga semakin bertambah saat menyoroti kondisi kerusakan lingkungan dan hutan.
Masalah krisis lingkungan ini sedang menghantui akibat fenomena lahan kritis mencapai ratusan ribu hektare dipicu penebangan liar dan alih fungsi lahan.
Menurut Messy, sapaannya, persoalan lingkungan sangat memperparah dampak cuaca ekstrem.
Selain itu, kebijakan alih fungsi lahan juga harus ada agar mencegah terjadinya banjir bandang maupun tanah longsor seperti kejadian di sejumlah lokasi.
“Harus ada perencanaan jangka panjang untuk pemulihan hutan dan pengendalian alih fungsi lahan,” tegas Messy.
Sementara itu, Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Jateng Bergas Catursasi Penanggungan menilai keselamatan warga menjadi prioritas utama dalam setiap penanganan bencana, termasuk saat terjadi tanggul jebol maupun longsor.
BPBD bersama TNI-Polri, relawan, dan pemerintah daerah bergerak cepat melakukan evakuasi serta penyelamatan. “Peralatan seperti alat berat sudah siap. Koordinasi dan komitmen menjadi kunci,” katanya.
Penanganan dilakukan melalui Sistem Komando Penanganan Darurat Bencana (SKPDB) sesuai Perka BNPB Nomor 3 Tahun 2016, dengan satu komando di bawah Komandan Tanggap Darurat. Sistem ini mengintegrasikan personel, logistik, dan komunikasi agar respons lebih cepat dan terstruktur.
BPBD Jawa Tengah juga mendorong penguatan “Tim Tangguh Desa” dan pemasangan sistem peringatan dini (early warning system) di wilayah rawan.
Kepala BMKG Jawa Tengah Goeroeh Tjiptanto menjelaskan bahwa curah hujan tinggi diperkirakan masih berlangsung dan terus terjadi di bulan Maret. Memasuki April, intensitas hujan diprediksi mulai menurun.
“Secara umum, kondisi hujan masih dalam kategori normal musim penghujan, namun ada peningkatan intensitas pada periode tertentu akibat dinamika atmosfer regional,” jelasnya.
Menjelang arus mudik dan balik Lebaran, BMKG memprediksi hujan masih berpotensi terjadi, terutama di wilayah pegunungan dan daerah rawan longsor. Karena itu, masyarakat diminta rutin memantau informasi prakiraan cuaca resmi.
“Sebentar lagi jutaan pemudik masuk ke Jawa Tengah. Masyarakat harus waspada, siapkan perjalanan dengan baik, cek kondisi kendaraan, dan pantau informasi cuaca,” tegas dia.

