Friedrich Nietzsche (1844-1900), filsuf dan filolog yang memproklamasikan kebebasan mutlak manusia serta sekaligus menyatakan Tuhan telah mati (God is dead).
Gagasan aliran eksistensialisme yang berpusat pada eksistensi diri manusia dan tidak pada yang lainnya melekat pada dirinya.
Kehendak manusia yang menjadikannya utuh sebagai dirinya sendiri, tidak yang lain. Ia berkehendak sekaligus berkuasa atas dirinya sendiri.
Tidak Tuhan sekalipun berkuasa atas diri manusia. Nietzsche secara tegas menyatas kehendak bebas manusia adalah untuk berkuasa (wille zur macht, will to power).
Kehendak bebas manusia untuk berkuasa, sekaligus ide membunuh Tuhan menolak segala sistem moral yang membelenggu kebebasan manusia.
“God is dead! God remains Dead! And We have killed him!” Tuhan telah mati, kita telah membunuhnya!.
Demikian pernyataan tegas Nietzsche (Nietzsche, Gay Science, 2001). Ia kembali menegaskan melalui sabda Zarathustra tentang kematian Tuhan (Nietzsche, Thus Spake Zarathustra, 1885).
Manusia menjadi unggul ketika ia mampu membunuh segala yang membelenggu dirinya. Manusia unggul (ubermensch) adalah ketika ia menjadi dirinya secara utuh dan bebas tanpa Tuhan. Manusia yang utuh sebagai pencipta (Munir, t.t.).
Kebebasan manusia dengan cara membunuh Tuhan menjadi metode awal untuk membentuk manusia yang berkehendak tanpa tekanan siapapun dan apapun, baik sistem etika, moralitas, bahkan Tuhan sekalipun.
Ia yang mampu berkehendak atas dirinya secara penuh, bukan atas apapun di luar dirinya.
Postmodernitas Bertuhan
Gagasan Nietzsche membunuh Tuhan ini telah menggema lebih dari 100 tahun. Jika ditelusuri secara mendalam, apakah manusia telah mampu membunuh Tuhan demi kebebasan sejati yang ingin ia raih untuk menjadi ubermensch?.
Tuhan bukanlah entitas wujud ontologis yang dapat dibunuh oleh manusia dengan segala peralatan yang dimilikinya.
Tuhan adalah eksistensi mutlak yang hadir bahkan sebelum manusia dan alam semesta itu ada. Tuhan dalam ontologi wujudNya bahkan tak tersentuh oleh manusia manapun.
Bagaimana dengan gagasan Tuhan yang dibunuh oleh manusia? Apakah manusia telah benar-benar membunuhNya? Tentunya secara ontologis wujudNya, Tuhan tak mungkin dapat dibunuh oleh siapapun. Tetapi pernahkah manusia tersadar bahwa Tuhan secara epistemologis telah “terbunuh” dalam hati dan jiwanya?.
Inilah Tuhan secara epistemologis, sebuah kesadaran bertuhan yang ada dalam jiwa manusia. Apakah kesadaran bertuhan ini telah menghilang? Apakah Tuhan memang masih bersemayam dalam setiap jiwa anak Adam saat ini? Manusia yang perlahan secara sengaja melepaskanNya dalam jiwanya.
Postmodernisme membongkar segenap moralitas yang ada. Manusia yang menolak untuk terikat dalam sistem moral yang membelenggu. Postmodernisme yang hadir saat ini untuk mendekonstruksi segala sistem tata hidup yang dianggap membelenggu hidup manusia.
Moral, etika, norma hukum adalah bentuk nyata dari apa yang disebut belenggu oleh Nietzsche, dan atas kebebasan mutlak manusia segala itu harus dibongkar.
Postmodernisme dengan ide dekonstruksi telah mewujudkan idealisme Nietzsche dalam tata pergaulan manusia. Tuhan yang kini perlahan menghilang dalam kesadaran manusia yang terdalam.
Apakah bayang ide tentang Tuhan semakin kabur dan terkubur oleh rasionalitas manusia? Apakah Tuhan benar-benar telah “terbunuh” dan terlupakan dalam setiap aktivitas manusia, sehingga yang hadir kini adalah manusia yang melangkah tanpa jiwa bertuhan?
Manusia boleh membenci Nietzsche sebagai tokoh eksistensialisme sekaligus pengusung ateisme terkuat dalam sejarah. Tetapi apakah langkah yang kita jalani saat ini justru sesuai dengan apa yang diutarakannya seabad silam?.
Apakah langkah dan desir detak kehidupan manusia hanyalah gerak mekanika tak bertuhan sehingga ia tak sadar telah membunuh Tuhan dalam hatinya? Sebuah kritik bagi diri manusia yang mengaku beragama.
Ibn Arabi Dan Rekonstruksi Ketuhanan
Suatu ketika ulama besar Syaikh Ibn Arabi (1165-1240) ditanya oleh beberapa orang yang tengah menghadiri sebuah acara: ya Syaikh dimana Tuhan?.
Sang Syaikh menjawab: Tuhan yang kalian sembah ada di bawah telapak kakiku. Kerumunan orang yang tengah berpesta itupun marah dan memukuli Ibn Arabi hingga luka-luka dan akhirnya meninggal. Ibn Arabi dianggap telah menista Tuhan bagi mereka yang tengah berpesta.
Hingga akhirnya setelah tahun berlalu tempat bekas Ibn Arabi menjejak tanah itupun digali dan ditemukan bongkahan emas. Ternyata apa yang diucapkan oleh Sang Syaikh Ibn Arabi itu benar. Mereka manusia telah menyembah tuhan berwujud harta, bukan Tuhan yang sejati (Nurdiansyah, 2021).
Ibn Arabi memberi kritik tajam atas makna berketuhanan manusia jauh sebelum Nietzsche lahir ke dunia. Apakah manusia telah benar bertuhan?. Apakah manusia justru menyembah tuhan berbentuk harta, kekuasaan dan kenikmatan dunia?.
Apakah ia melupakan Allah sebagai Tuhan yang sesungguhnya?. Apakah Manusia kini tak dapat hidup tanpa harta dan kekuasaan sehingga melupakan hingga menghilangkan Allah dalam jiwanya?. Ibn Arabi telah menyadarkan manusia untuk kembali pada kesadaran eksistensi Tuhan yang sejati.
Penutup
Ubermensch maupun Insan Kamil keduanya merujuk pada kesempurnaan manusia dalam dua kutub yang berbeda. Tetapi ada satu hal yang sama, yaitu keduanya menjadi kritik tajam atas konsep berketuhanan manusia postmoderen.
Manusia yang perlahan mulai kehilangan Dia, karena Tuhan telah terbunuh dalam hati dan jiwanya. Kita perlu kembali menyelami hakikat berketuhanan dalam hati. Membangun kembali jiwa bertuhan dalam kesadaran terdalam.

