HEADLINNEWS.ID – Di usia 75 tahun, semangat Hj. Komsiyah dalam menekuni kerajinan anyaman bambu masih tetap menyala.
Perempuan asal Desa Winong Kidul, Kecamatan Gebang, yang kemudian menetap di Desa Winong, Kecamatan Kemiri, Kabupaten Purworejo, ini masih aktif menganyam berbagai motif plafon dan dinding bambu yang menjadi ciri khas daerahnya.
Berbagai motif seperti Menyan Kobar, Kembang Pucung, hingga aneka model anyaman lainnya masih dikerjakan dengan telaten. Produk-produk tersebut banyak digunakan sebagai plafon maupun dinding rumah berbahan bambu.
Saat ditemui di kediamannya belum lama ini, Hj. Komsiyah tampak sederhana dan rendah hati ketika menceritakan perjalanan hidup yang telah dilaluinya.
“Saya sudah terbiasa menganyam sejak masih muda. Sampai sekarang masih saya kerjakan karena ini juga menjadi mata pencaharian keluarga dan warga sekitar,” tuturnya.

Kesuksesan yang diraih Hj. Komsiyah tidak datang secara instan. Pada masa kejayaan industri anyaman bambu, ia dikenal sebagai sosok pekerja keras yang disiplin dalam mengelola keuangan.
Dari hasil kerajinan yang ditekuni selama puluhan tahun, ia dan suaminya mampu membiayai pendidikan enam orang anak.
Sebagian besar anak-anaknya menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Ringin Agung, Kediri, Jawa Timur, sementara lainnya mengenyam pendidikan di Purworejo.
Ketekunan bekerja dan kebiasaan menabung akhirnya membuahkan hasil. Pada tahun 2016, Hj. Komsiyah mendapat kesempatan menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.
Namun, menjelang keberangkatannya, cobaan berat datang. Sang suami meninggal dunia sehingga ia harus menjalani masa idah sebelum akhirnya berangkat menunaikan rukun Islam kelima tersebut.
“Waktu itu sedih karena suami meninggal dunia. Tetapi saya tetap menjalankan niat berangkat haji setelah masa idah selesai. Saya yakin semua sudah menjadi jalan yang diberikan Allah,” kenangnya.
Sepulang dari Tanah Suci, semangatnya untuk berkarya tidak pernah surut. Ia kembali menjalankan usahanya sebagai perajin sekaligus bandar anyaman bambu.
Melalui usaha tersebut, Hj. Komsiyah turut membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar dan membantu menjaga keberlangsungan industri kerajinan bambu di desanya.
Hingga kini, Desa Winong masih dikenal sebagai salah satu sentra kerajinan bambu kepang dan plafon bambu di Kabupaten Purworejo. Produk yang dihasilkan dapat dibuat sesuai pesanan pelanggan dan dipasarkan ke berbagai daerah.
Menurut Hj. Komsiyah, banyak pedagang dari Kebumen, Yogyakarta, Kalijambe hingga Kendal yang rutin datang untuk mengambil hasil kerajinannya.
“Alhamdulillah sampai sekarang masih ada pelanggan dari berbagai daerah. Yang penting tetap menjaga kualitas dan kepercayaan,” ujarnya.
Selain dikenal sebagai perajin yang sukses, keluarga Hj. Komsiyah juga memiliki hubungan kekerabatan dengan almarhum KH Toifur Mawardi.
Semasa hidupnya, ulama kharismatik tersebut diketahui kerap bersilaturahmi ke kediaman keluarga Hj. Komsiyah setiap Hari Raya Idulfitri.
Kisah hidup Hj. Komsiyah menjadi bukti bahwa kerja keras, ketekunan, dan kesabaran dapat mengantarkan seseorang meraih cita-cita besar.
Dari hasil menganyam bambu yang ditekuni selama puluhan tahun, ia mampu membesarkan keluarga, memberdayakan masyarakat sekitar, hingga menunaikan ibadah haji.
Di usianya yang tidak lagi muda, Hj. Komsiyah masih terus berkarya dan menjaga warisan kerajinan bambu agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.
“Selama masih sehat, saya ingin tetap menganyam dan membantu warga yang menggantungkan pekerjaan dari kerajinan bambu ini,” pungkasnya.

