Bahasa Rekonstruksi Budaya Politik

DR. Prasetyo Utomo
5 Min Read

Oleh: DR. Prasetyo Utomo

Rekonstruksi budaya politik yang dilakukan Presiden Prabowo ditandai dengan pemilihan tokoh-tokoh menteri yang sanggup mengekspresikan komunikasi secara rasional.

Berkembanglah ekspresi bahasa yang bertujuan membongkar kedok-kedok kebusukan di lingkungan kekuasaan. Apa yang sedang bergerak dalam lingkaran kekuasaan Indonesia mutakhir merupakan langkah rekonstruksi budaya politik. 

Rekonstruksi dimaknai sebagai sebuah proses penataan ulang secara terus-menerus struktur kekuasaan yang sudah didekonstruksi. Keberhasilan rekonstruksi budaya politik diuji penggunaannya dalam masyarakat lewat perkembangan waktu. 

Ketika Presiden Prabowo mengangkat Purbaya sebagai menteri keuangan, tampaklah gebrakan komunikasi bahasa dengan ekspresi dan gesture yang dilakukannya sebagai pertanda dilakukannya dekonstruksi yang diikuti dengan rekonstruksi budaya politik.

Bahasa satire, sarkastis, dan paradoks dimanfaatkan Purbaya untuk menjalankan rekonstruksi budaya politik. Hari-hari belakangan ini ia menjadi menteri yang paling gencar melakukan rekonstruksi budaya politik, paling populer mewarnai perbincangan media sosial.

Ia tak gentar menghadapi lawan-lawan politiknya. Tentu berkembang dukungan, ancaman, dan teror terhadapnya.

Dukungan terhadap Purbaya terutama datang dari rakyat yang merasa mendapat angin segar akan terbukanya rekonstruksi budaya politik yang membawa keadilan, kesejahteraan, dan perlindungan.

Ancaman datang dari tokoh-tokoh yang tergerus hegemoni kekuasaannya, tersingkap kedok kebusukan di dalamnya, dan mengalami “pelemahan” kekuasaan. Teror datang dari tokoh-tokoh yang memanfaatkan dominasi kekuasaan dengan kekuatan koersif.       

Relasi kuasa tampak dalam penggunaan bahasa. Kekuasaan ditandai dengan relasi timbal-balik antara “yang menguasai” dan “yang dikuasai”. Kuasa berarti menampakkan dialektika antara “yang kuat” dan “yang tidak berdaya”.

Apa yang dilakukan Menteri Purbaya sekarang adalah menampakkan kepemimpinan melalui bahasa untuk menunjukkan siapa yang merupakan penguasa dan siapa yang terkuasai.     

Bahasa yang disampaikan Menteri Purbaya menjaga batas-batas kuasa, status, dan peran pelaku politik. Dengan bahasa, ia mengendalikan dan menjaga sumber-sumber sosial.

Dalam teater politik, ia menguasai bahasa untuk mengontrol sumber-sumber sosial. Terkesan ia tak mau gagal menguasai bahasa. Kegagalan akan bermakna kekalahan dalam menguasai sumber-sumber sosial.    

Rekonstruksi yang dilakukan Menteri Purbaya dengan bahasa satire sengaja diarahkan pada tokoh-tokoh tertentu untuk mengontrol atau mengendalikan perilaku mereka.

Bahasa satire diekspresikan untuk membuka jalan bagi segala bentuk tindakan, hubungan, dan tatanan sosial. Ia memanfaatkan humor, ironi, sarkasme, atau parodi untuk mengkritik, mengejek, atau menertawakan kebiasaan, gagasan, dan ideologi yang membusuk dalam hegemoni kekuasaan.

Tujuan pemanfaatan satire untuk menyadarkan aparat pemerintah agar membenahi kesalahan dan mendorong perubahan politik.

Bahasa sarkasme yang diekspresikan Menteri Purbaya untuk menghadirkan otoritas kekuasaan pada tokoh-tokoh yang melakukan penyimpangan.

Dengan tegas ia mengancam akan memecat pegawai Direktorat Jenderal Bea Cukai yang nongkrong di kedai kopi pada jam bekerja untuk membicarakan bisnis dan mengamankan aset.

Ia mengancam akan memecat, dan mempersulit hidup mereka. Ia sengaja menggunakan kata-kata pedas, kasar.

Rekonstruksi budaya politik yang dilakukan Purbaya juga menghadirkan bahasa paradoks. Ia memanfaatkan pernyataan yang tampak bertentangan dengan logika, tetapi mengandung kebenaran.

Ia mengabdikan hidupnya untuk kepentingan negara yang bersih dan membela kepentingan rakyat, tak peduli meski harus ditembak atau diracun.

Ia ingin mengabdi pada kepentingan dan kesejahteraan rakyat, meski berhadapan dengan ancaman, teror, bahkan kematian. Ia berhasrat memberantas oknum-oknum pajak yang merugikan negara. Tampak bahwa ia memberikan pernyataan dengan bahasa paradoks.      

Bahasa rekonstruksi budaya politik Presiden Prabowo dimanfaatkan untuk melahirkan konsensus dan legitimasi kekuasaan yang melindungi kepentingan rakyat.

Ia berupaya memberikan citra kepemimpinan yang dilandasi nilai-nilai yang mesti ditegakkan dalam pemerintahan, tetapi juga mencitrakan kepemimpinan moral dan intelektual.

Ia melakukan pembelaan terhadap kepentingan rakyat. Ia mulai melakukan dekonstruksi terhadap kepemimpinan lama, dan mulai menunjukkan otoritas kekuasaan yang membongkar kelemahan-kelemahan pemerintahan sebelumnya. 

Menteri Keuangan Purbaya menjadi tokoh yang paling lantang menyuarakan rekonstruksi budaya politik. Ia membongkar kebusukan-kebusukan birokrasi dan mafia yang terselubung di dalamnya.

Setahun kepemimpinan Presiden Prabowo, ditandai dengan bahasa yang kian lugas menyampaikan rekonstruksi budaya politik.

Tentu saja penyingkapan-penyingkapan kedok dan kebusukan penguasa akan membangkitkan konfrontasi dengan tokoh-tokoh yang terusik kenyamanan kekuasaannya.

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!