HEADLINNEWS.ID – Indonesia baru saja memenangkan Piala FIFA ASEAN CUP 2026. Kegembiraan merasuki setiap warga dari Ibukota hingga pelosok pedesaan.
Tangis & teriakan histeris kebahagiaan tidak saja meliputi para pemain nasional sepakbola Indonesia, tetapi dirasakan oleh segenap anak bangsa Indonesia. Dari Presiden hingga rakyat jelata merasakan kebahagiaan mendalam.
Sepakbola bukan sekedar olahraga, ia adalah identitas sebuah kelompok manusia dan bahkan telah menjadi harga diri sebuah bangsa.
Sejarah Kuno Sepak Bola
Sepak bola modern secara historis telah diciptakan sejak abad XIX di London, yaitu sejak berdirinya organisasi sepak bola Football Association (FA).
Tetapi sepak bola sendiri telah ada sejak awal peradaban manusia. Ia telah ada di kawasan Asia, Amerika Selatan, Romawi, dan lainnya (guidetofootball.com, 2026).
Di Jepang berabad silam telah terdapat olahraga Kemari di sekitar tahun 794 M. Kemari dimainkan oleh beberapa pemain yang menendang bola ke atas oleh seorang pemain.
Setiap pemain akan melambungkan bola pada pemain lainnya, dan pemain lainnya menerima bola jangan sampai jatuh ke tanah. Mirip olahraga sepak takraw yang populer di Asia Tenggara.
Di kawasan Mexico, Guatemala, Honduras, Costa-Rica, pada masa Kebudayaan Maya terdapat manuskrip kuno berjudul Popol Vuh yang menjelaskan adanya olahraga menggunakan bola.
Olahraga ini memadukan kaki, tangan, juga kepala. Olahraga ini dikaitkan dengan peribadatan ritual suka Maya dalam menghormati para dewa suku Maya (nationalgeographic.com, 2012)
Pada masyarakat Yunani Kuno juga terdapat olahraga episkyros. Olahraga ini diperkenalkan oleh Julius Pollux. Selain episkyros, pada masyarakat Sparta juga olahraga bola.
Masyarakat Sparta menjadikan olahraga bola, yang disebut agoge sebagai bagian dari latihan perang (fifamuseum.com, 2026).
Sepakbola sebuah Fenomena Ideologis
Sepakbola berkembang bukan semata bentuk kegiatan olahraga, tetapi sudah mulai beralih pada konteks yang berkaitan dengan nilai-nilai yang berkarakter ideologis.
Sepakbola bukan semata permainan antar klub atau kesebelasan yang dimainkan oleh 11 orang vs 11 orang. Ia juga menjadi pertarungan antar supporter pendukung klub yang mengekspresikan sebuah nilai dan identitas tertentu.
Sepakbola mencerminkan perlawanan atas penderitaan dan penindasan yang dirasakan oleh sekelompok manusia atas kelompok lainnya.
Simbol dan lambang kesebelasan sepakbola mencerminkan nilai-nilai yang dianut oleh kelompok sosial manusia. Ia menyuarakan kehendak dan gerak suatu kelompok masyarakat.
Pertandingan sepakbola bukan sebatas pertarungan antar klub, ia menunjukkan sebuah pertempuran identitas kelompok sosial dengan nilai yang berbeda.
Tidak heran kekalahan sebuah klub sepakbola bukan sekedar kekalahan sebuah pertandingan.
Kekalahan itu difahami sebagai sebuah kekalahan atas nilai, jiwa, semangat yang selama ini mereka anut. Hal ini sangat berkarakter ideologis.
Klub Sepakbola Liverpool terbentuk sebagai solidaritas kaum buruh pelabuhan Liverpool. Nilai-nilai sosialisme ditanamkan oleh klub untuk mendukung kelas buruh pelabuhan.
Liverpool membangun identitas dirinya sebagai pembela kaum buruh yang menentang kelompok kapitalis Eropa (idntimes.com, 2025).
Lagu dukungan Klub Liverpool dari para supporternya, You’ll never walk alone, menunjukkan semangat solidaritas kaum buruh pelabuhan.
Mereka membangun semangat kolektif dalam menghadapi setiap kesulitan hidup yang terjadi (Asgar, et.al., 2026).
Kemenangan klub sepakbola, atau kesebelasan nasional sebuah negara dimaknai sebagai keunggulan, kehormatan, dan juga harga diri bangsa.
Kemenangan Timnas Garuda, bukan sekedar kemenangan sebuah kejuaraan. Ia adalah simbol keunggulan filosofi dan ideologi bangsa atas bangsa lainnya. Garuda menjadi simbol ideologi Pancasila yang berkarakter religio magis & komunal.
Sepakbola membawa simbol-simbol tertentu, ia bermakna magis juga ideologis.
Simbol itu mencerminkan keunggulan dan kejayaan sebuah kaum yang diwakili oleh hadirnya sebuah klub kesebelasan sepakbola.
Setiap klub sepakbola dan kesebelasan nasional akan berjuang hingga titik akhir untuk memperjuangkan keunggulan dan kejayaan yang tertanam dalam simbol klub atau kesebelasan nasionalnya.
Kesebelas pemain bukan semata berebut bola dan memasukkannya ke jala lawan. Masuknya bola ke jala lawan dimaknai sebagai sebuah kemenangan ideologis. Dalam sepakbola terjadi pertaruhan harga diri dan kejayaan.
Brasil & Argentina menjadi dua negara penggila sepakbola di dunia. Bahkan beberapa warga Argentina telah menganggap Diego Maradona sebagai Tuhan.
Mereka mendirikan Gereja Maradona dan mengangkat Maradona menjadi Dios atau Tuhan (tempo.co, 2022).
Para supporter yang meneriakkan yel, mengibarkan bendera, hingga kembang api di lapangan sepakbola layaknya sebuah bangunan kokoh yang bersiap menghadapi sebuah peperangan besar. Sepakbola menjadi palagan pertempuran antar nilai yang dianut oleh masing-masing pihak.
Para supporter juga ikut terlibat membentuk kelompok yang sangat militan dan seringkali ekstrem dalam mendukung klub kesebelasannya.
Dukungan terhadap klub kesayangan dapat berubah menjadi fanatisme ekstrem hingga berbuah kerusuhan seperti hadirnya fenomena hooligans di Inggris.
Para hooligans melakukan kerusuhan di berbagai pertandingan sepakbola Eropa hingga mengakibatkan kematian (Sukmasari, 2019).
Kasus yang sangat terkenal bentrokan supporter pendukung Klub Juventus versus Liverpool di Stadion Heysel pada tahun 1985 dalam Final European Cup yang menghadirkan Juventus versus Liverpool. Kerusuhan antar supporter itu menelan 39 korban jiwa (historia.id, 2020).
Sepakbola telah melahirkan sebuah nilai baik positif berupa kejayaan bangsa hingga negatif berbentuk kerusuhan antar supporter. Sepakbola telah menarik segenap nilai manusia ke dalamnya.
Penutup
Sepakbola bukan sekedar industri, tetapi sebuah kekuatan budaya, nilai ideologis, hingga teologi spiritualitas manusia seperti yang diterapkan oleh masyarakat Suku Maya & warga Argentina.
Sepakbola mampu menghadirkan kekuatan magis yang menjadikan manusia mengalami histeria massal, menangis, tertawa, bersorak, bahkan hingga berperang.
Sepakbola adalah sebuah identitas dan harga diri yang dipertaruhkan. Juara sepakbola bukan semata juara dalam olahraga, ia adalah juara dalam kompetisi antar peradaban manusia.
Ditulis Oleh: Fokky Fuad Wasitaatmadja, Universitas Al Azhar Indonesia

