Oleh: Jayanto Arus Adi
Serangan Amerika (dan Israel) memborbardir Iran adalah manifestasi nyata zaman edan, zaman kalabendu (baca Serat Kalathida karya Ronggowarsito). Perang ini bukan sekadar ‘Puting Beliung’ tetapi badai yang sempurna (the perfect storm). Salah langkah atau kebijakan, Indonesia rawan tersapu badai ini.
Mari kita sama sama mencermati tanda-tanda zaman kehidupan di bumi ini sedang menyongsong kehancuran. Arogansi Amerika dengan keberpihakannya yang membabi buta membantu Israel menjadi afirmasi persekutuan jahat. Mereka menjadi setan dan iblis peradaban.
Kalkulasi etik, spiritual dan kemanusiaan nyata-nyata dilanggar menafikan adab, kebajikan, kearifan semesta. Mereka lupa kemenangan hakiki adalah mengalahkan angkara murka, mengalahkan diri sendiri. Ketika perang dan unjuk kuasa terus dilakukan pada akhirnya alam yang turun tangan, inilah pertanda zaman kalabendu.
Dalam perspektif matematis, dunia kini sedang pincang. Negara-negara Arab dibutakan oleh realitas, mereka tersesat logika spiritualnya membela kezaliman. Ketika saudara-saudara mereka di Gaza dan Palestina dibantai semua bisu, mereka tuli dan menutup mata.
Distorsi yang menganga ketika Amerika mengobraik-abrik kedaulatan negara lain semua diam. Tapi sepertinya tidak untuk kali ini (saat mereka berencana menjagal Iran). Tak disangka, tak dinyana negeri para Mullah, bekas imperium Persia yang diisolasi, diembargo dikucilkan lebih dari 30 tahun, ternyata luar biasa.
Perang Teluk 2026 bisa jadi akan melahirkan tatanan dunia baru, membuka mata fenomena pincang, kondisi timpang yang selama ini terjadi. Iran bukan negara besar, namun perang tidak selalu dimenangi Amerika (Israel) dan sekutunya.
Memijakkan pada fakta empirik di atas, kita sama-sama menunggu dan menyaksikan, akankah Amerika akan mengalami nasib yang sama, seperti di Vietnam, dan juga Afghanistan.
Saat ini dunia sedang bergolak, diguncang prahara ekonomi dan energi akibat Selat Hormuz ditutup. Keputusan Iran menutup selat tersebut yang secara de facto menjadi bagian dari otoritas teritorialnya memicu kepanican global.
Pasokan minyak dunia 20% disuplai melalui jalur ini. Ketika jalur itu ditutup, ibarat pasien sesak nafas. Mereka dihantui ajal karena tabung oksigen tidak bisa segera datang. Satu lagi dunia perlu sadar dan paham mengapa Iran begitu percaya diri, tak gentar menghadapi gertakan, dan ancaman bumi hangus dari Amerika.
Iran adalah keberlanjutan Imperium Persia. Secara historis kekaisaran Persia merupakan kelanjutan sejarah paling panjang di dunia. Meskipun namanya berganti, esensi budaya, bahasa, dan geografisnya tetap berakar nilai-nilai yang sama. Koresh Agung dari Dinasti Archaemenid telah berkuasa sejak 550-330 sebelum Masehi (SM).
Inilah superpower pertama dalam sejarah dunia yang membentang dari wilayah Balkan (Eropa Timur) hingga Lembah Sungai Indus (India) dan membujur sampai Pegunung Zagroes di Iran. Artinya secara historis Amerika belum ada apa apanya, karena sejarah Amerika baru dimulai ketika ditemukan Christopher Columbus 1492.
Sedangkan babak baru, momentum yang menandai kelahiran Amerika Serika baru terjadi pada 4 Juli 1776.
Momentum itu menjadi lembaran baru, Deklarasi Kemerdekaan, 13 koloni Inggris secara resmi menyatakan diri lepas dari kekuasaan Britania Raya dan membentuk United States of America.
Apa simpulan yang dapat dipetik dari narasi di atas, tidak lain adalah Amerika tidak bisa gegabah dan sembrono dapat menaklukkan Iran. Sejarah panjang telah menguji, dan testimoni historis yang nyata 30 tahun diembargo tidak lantas membuat Iran bangkrut.
Percaya diri dan keteguhan yang mengagumkan ditempa oleh perjalanan hidup, satu hal lagi yang diyakini bagi Rakyat Iran mati membela negara adalah jalan menuju surga. Jika mereka (Israel dan Amerika juga sekutunya, termasuk kaki tangan AS di Timur Tengah) nekad Iran pasti akan menggunakan senjata pamungkasnya, yakni nuklir.
Indonesia di ujung tanduk
Jika perang (Teluk) tidak segera berakhir, bagaimana nasib Indonesia. Dunia digerakkan oleh minyak, apalagi Indonesia adalah negara importir minyak. Meski tidak membeli langsung dari Timur Tengah, tetapi Singapura dan Cina tetapi mereka (Cina dan Singapura) membeli dari Arab.
Kalkulasi ini yang menjadi ancaman nyata terhadap stabilitas domestik pemerintahan Prabowo-Gibran. Sebagai pemerintahan yang sangat mengandalkan pertumbuhan ekonomi tinggi dan program kesejahteraan sosial yang masif, konflik di “jantung energi dunia” ini bisa menjadi game changer yang tidak diinginkan.
Indonesia saat ini dihadapkan pada Bom Waktu (time bomb) subsidi BBM (Beban APBN). Ini adalah ancaman yang paling langsung dan bersifat politis. Yang perlu dipahami publik, Indonesia saat ini adalah net importer minyak mentah.
Jika harga minyak dunia melambung melampaui asumsi makro APBN (misalnya mencapai $120 – $150 per barel), pemerintah tidak punya pilihan, kecuali menambah subsidi. Artinya menghabiskan ruang fiskal yang seharusnya dialokasikan untuk program unggulan seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan hilirisasi.
Ke dua adalah menaikkan harga BBM. Konsekuensinya sangat berisiko secara politik karena dapat memicu gelombang protes massa dan menurunkan tingkat kepuasan publik (approval rating). Kemungkinnan itu yang sangat dikhawatirkan dapat memicu krisis politik, yang berujung pada ambruknya pemerintahan.
Dilema politik saat ini juga sedang menjepit pemerintahan Prabowo-Gibran. Prabowo Subianto dikenal sangat aktif dalam diplomasi internasional, menuntut kecermatan dalam membuat kebijakan. Secara konstitusional sejak negara Republik Indonesia didirikan telah mengambil sikap yang tegas dan jelas, yakni anti-penjajahan dunia.
Komitmen tidak mengakui Israel dengan mendukung kemerdekaan Palestina adalah harga mati. Dalam konteks inilah menyikapi serangan Amerika (dan Israel) ke Iran kita harus mengambil sikap tegas, mengecam!!!
Sikap pemerintah yang abu-abu tidak mengutuk, apalagi bermain mata dengan mereka (Amerika dan Israel) akan menjadi karma sejarah.
Kesadaran historis, keberpihakan moral adalah harga diri bangsa yang tidak bisa ditawar-tawar. Bagi pemerintahan Prabowo-Gibran, ancaman Perang Teluk bukan sekadar soal harga minyak, tapi inilah menyangkut kehormatan dan harga diri bangsa.
Keliru melangkah risikonya sangat nyata, yakni menghadapi “badai sempurna” (perfect storm). Inilah zaman edan, zaman kalabendu, sebuah masa yang menuntun kita kembali pada kithah, pada nurani.
Menutup catatan ini, saya mengajak pada semua warga bangsa menyatukan asa bersama, membangun Indonesia. Pada pemerintah, Prabowo-Gibran saya menukil sesanti Ronggowarsito untuk kukuh memayu hayuning bawono. Negara dan pemerintah hadir membersamai rakyatnya. Ungkapan satir “Makan Berkedok Korupsi Gratis” jangan disikapi keliru, emosional, apalagi ‘disiram air keras’.
Dialog perlu dilakukan, komunikasi dibangun atas dasar kejujuran dan hati nurani.
Jangan biarkan alam marah, alam murka. Bencana alam adalah sebentuk pesan kecil dari Allah untuk mengingatkan kesalahan kesalahan kita yang berakumulasi sehingga menjadi petaka.
Tabik, mari kita instropeksi bersama, sama-sama eling, juga waspada. Untuk Indonesia yang ‘baldatun toyibatun warobun ghofur’.
Jayanto Arus Adi adalah Wartawan Senior sekaligus Ahli Pers Dewan Pers. Ia merupakan Alumni Program Pendidikan Penyelenggara Negara Kepemimpinan (PPNK) Lemhanas RI Angkatan 227 Tahun 2025.
Sejak 2022, ia aktif bergabung di Taruna Merah Putih Pusat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal. Karena kepiawaiannya menulis, ia juga berkontribusi di Satu Pena, organisasi penulis yang dipimpin Denny JA. Selain itu, ia mengajar Jurnalistik di beberapa perguruan tinggi.
Jayanto saat ini menjabat sebagai Ketua Umum Nasional MOJO (Mobile Jurnalis Indonesia). Sebelumnya, ia pernah menjabat sebagai Wakil Ketua JMSI Pusat (Jaringan Media Siber Indonesia), salah satu konstituen Dewan Pers. Sebagai jurnalis, ia juga aktif terlibat dalam Komite Publisher Rights.
Saat ini ia sedang menempuh program Doktoral (S3) di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto dengan bidang studi Pertanian, Konsentrasi Komunikasi Agribisnis dan Ketahanan Pangan.
Ia mendirikan dan memimpin Headlinnews, media online yang berbasis di Jawa Tengah dengan tagline “Dari Jawa Tengah untuk Indonesia”. Headlinnews didedikasikan sebagai oase informasi alternatif sekaligus menjadi lokomotif bagi penggerak civil society.

