HEADLINNEWS.ID – Belum genap dua tahun menjadi Presiden, Prabowo telah melakukan, kocok ulang, rotasi, atau istilah yang lebih populer resafel tujuh kali.
Kementerian paling sering sering kena bongkar pasang adalah Keuangan. Pertama kali, ekonom legendaris yang punya reputasi gemerlap jadi ‘korban’ pertama.
Pelengseran mantan pimpinan World Bank ini diwarnai fenomena epic fall, yakni tragedi dramatik penjarahan rumah atau kediaman pribadinya. Kejadian ganjil, dan begitu mengusik nurani publik, betapa tidak ramah, bayangkan rumah yang berada di bilangan Bintaro tak luput dari penjarahan sistemik.
Istilah sistemik menjadi diksi yang representatif, karena penjarahan di rumah Sri Mulyani diduga terjadi seperti sebuah operasi yang terskema. Malang nian nasibnya (Sri Mulyani), home sweet home oase yang menjadi surga dia dan keluarga dijarah, diacak-acak, diaduk-aduk sebegitu rupa. Ironisnya lagi, ini yang mengusik akal sehat, juga mengetuk nurani, adalah kendati berada di kompleks elit dengan pengamanan ketat, ternyata begitu rapuhnya.
Konon Sang empu rumah, sudah mengontak petinggi negeri yang memegang kendali keamanan, Menko Polhukam Syafrie Samsudin. Aneh, ajaib, seperti tai kucing rasa cokelat, laporan itu tak mendapat respon semestinya. Gile, gile bener rumah menteri yang notabene kasir negara begitu mudahnya diacakadul.
Duuuh duuuuh, bajindul, bajindul, begitu publik meratap, mengumpat melampiaskan sesek di dada. Gemes bukan main, seperti menyaksikan laga Timnas Sepakbola yang kala itu sedang berjuang untuk masuk Piala Dunia, sudah habisin duit, pakai naturalisasi prestasinya tak kinclong-kinclong amat. Malu-maluin saja!! Rasanya pengin turun lapangan jadi pemain saja, daripada nggedruk-nggedruk tanah malah bisa kena stroke.
Nasib serupa (Sri Mulyani-red) dialami juga politisi Uya Kuya, juga anggota DPR tajir melintir dari Nasdem, Syahroni. Mengapa kasus seperti itu (penjarahan) bisa terjadi, atau siapa yang sengaja menggerakkan, lantas apa pula maksudnya.
Ahh dasar politik, ngapain juga gue pikirin. Gitu saja kok repot.
Yaaa yaaaa…., insight penting dari narasi di atas, atas nama politik langkah lancung, kebijakan sungsang mah biasa.
Kira-kira begitu. Bisa jadi, artinya bisa saja benar, tapi bisa juga salah. Operasi penjarahan baik di rumah Uya Kuya, Syahroni, juga rumah Sri Mulyani adalah bagian dari operasi politik dalam tanda petik. Artinya ada otak atau dalang yang menggerakkan.
Sri, ya DR Sri Mulyani, ekonom kawakan, tokoh yang diakui dunia akhirnya memilih mundur dan meninggalkan kursinya. Posisinya digantikan Purbaya Yudhi Sadewa.
Seperti sinetron alay, Purbaya disambut mengharu-biru, dielu-elukan sebagai pahlawan. Gayanya yang flamboyan langsung memikat publik, pasar sempat juga terpana tercermin dari pasar saham terkerek.
IHSG naik, publik girang-girang, apalagi sang menteri ini gayanya memikat ala koboy. Jurusnya bak dewa mabuk, tendang sana sini meski tak paham kita ikut mengamini.
Bulan Madu yang kandas
Sayang bulan madu itu tak langgeng. Prabowo tetiba memecat dan eksekusi itu dilakukan telanjang, nyaris tanpa tata krama.
Saat Purbaya masih rapat dengan DPD (Dewan Perwakilan Daerah) RI, dia ditelepon entah dari siapa, namun tersirat begitu penting. Mungkin sang penelpon, seperti dugaan publik adalah Letkol Tedy,
Izin menerima telp dan keluar ruangan, tetapi tidak kembali lagi. ‘’Purbaya apa-apaan ini, kurang ajar, rapat belum selesai ditinggal begitu saja,” kira-kira demikian uneg-uneg yang bikin mules perut juga.
Tapi uneg-uneg itu terjawab, ternyata Purbaya dicopot, dipecat, diresafel, atau apa pun istilahnya, yang jelas kursi Menteri Keuangan melayang. Dia digantikan Suahasil Nazara.
Sore itu di Istana Negara, Suahasil Nazara dilantik bersama sejumlah pejabat lain, total jumlahnya belasan. Nama yang menjadi sorotan publik ada Listyo Sigit Prabowo, Dudung Abdurahman, Sugiyono, juga Bahlil Lahadalia.
Nama-nama itu adalah sosok penting dengan segala portofolionya. Sugiyono, konon anak ideologis Prabowo. Dus, mangkanya, zonder pengalaman Sugiyono bisa didapuk jadi Menlu, ya bagaimana lagi, orang anak Presiden!! Kira-kira begitulah, jangan heran citra kita sempat remuk.
Kemudian Jendral Dudung, ya Dudung Abdurahman, mantan KSAD jawara Banten yang pernah ‘mengobrak-abrik’ markas FPI pimpinan Habib Rizieq.
Bahlil apalagi, dia adalah Ketua Umum Partai Golkar, tokoh yang matang dan memimpin partai paling berpengalaman dengan jejak historis begitu hegemonik.
Listyo Sigit Prabowo, Kapolri paling ‘sakti’ sepanjang sejarah Polri, dan mencatat sebagai orang paling lama di pucuk pimpinan Korps Bhayangkara.
Menilik penempatan dan pergeseran sederet pembantu Presiden, pantas saja ada banyak istilah di sana (baca resafel Kabinet). Ada yang menyebut kocok ulang, pergantian, pencopotan, dan pemecatan.
Yang terakhir pemecatan menjadi terminologi yang pas untuk Purbaya Yudhi Sadewa. Meski tunggu dan bukti saja beberapa waktu, karena tiba-tiba ada konsesi atau kompensasi jabatan lain. Bisa jadi jabatan atau posisi yang diberikan sedang dicari-cari.
Lihat, sederet petinggi Polri mulai dari Listyo Sigit, Dedi Prasetyo, dan M Fadil Imran. Mereka tak perlu khawatir non job, apalagi keleleran tidak kebagian jabatan karena Presiden pasti sudah memikirkan.
Kita tunggu saja apa jabatan atau posisi yang akan kembali diberikan buat M Qodari, dedengkot lebih survey yang sempat berlabuh di KSP.
Jangan khawatir brow, pasti aman kok, paling tidak masuk jadi Wantimpres, ahay. Dewan Pertimbangan Presiden, ya Dewan yang maha penting, karena sesungguhnya inilah Kawah Candradimuka tempat menggodok, memformulasikan, dan mengkristalisasikan kebijakan-kebijakan seorang Presiden.
Tapi maaf seribu maaf, bukan tak bermaksud kurang mengapresiasi sederet tokoh yang berkhikmat di sana.
Yang saya begitu respek, dan ikut berbahagia, serta tabik adalah kepada Abangda Rocky Gerung. Sekali lagi maaf beribu maaf karena yang lain izinkan saya bertanya, emang tidak ada tokoh lain, lagi lagi lu lagi, lu lagi. Salam
Jayanto Arus Adi, Wartawan Senior, Ahli Pers Dewan Pers, Asesor Uji Kompetensi Wartawan PWI Pusat, dan duduk sebagai Pengurus Pusat SMSI (Serikat Media Siber Indonesia) dan Plt Ketua SMSI Jateng. SMSI adalah salah satu konstituen Dewan Pers.
Tahun 2025 mengikuti PPNK Lemhanas RI Angkatan 227. Selain tetap aktif sebagai praktisi media, juga berkiprah sebagai konsultan media dan komunikasi. Ikut berkontribusi di Satu Pena (organisasi penulis yang dipimpin Denny JA).
Mengajar jurnalistik di beberapa kampus, juga aktif di MOJO (Mobile Jurnalis Indonesia) sebagai Ketua Umum Nasional. Saat ini tengah menempuh S3 (Program Doktoral) di Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Bidang yang dipilih adalah Prodi Pertanian, Komunikasi Agribisnis, dan Ketahanan Pangan.
Headlinnews.id adalah media online yang didirikan dan dinahkodai langsung sebagai CEO sekaligus Pemimpin Redaksi. Dengan tagline “Dari Jawa Tengah untuk Indonesia”, media ini didedikasikan menjadi oase bagi informasi alternatif, sekaligus lokomotif penggiat civil society.

