Rial Iran Melemah ke 2,688 Juta per Dolar, Bank Sentral Intervensi

Michael Ivan
By
Michael Ivan
Jurnalis
Lebih suka bekerja di balik layar, tapi pastikan selalu update dengan apa yang terjadi di luar sana.
- Jurnalis
2 Min Read

HEADLINNEWS.ID – Nilai tukar rial Iran merosot ke level terendah baru pada Sabtu (3/10/2026), mencapai sekitar 2,688 juta rial per dolar AS di pasar bebas. Bank sentral Iran kemudian mengumumkan intervensi dengan menggelontorkan hingga 2 miliar dollar AS untuk menopang mata uang nasional.

Data Reuters menunjukkan dolar AS diperdagangkan sekitar 2,688 juta rial, naik dari sekitar 2,632 juta rial per dolar pada Jumat (2/10/2026). Bon-bast.com mencatat angka yang sama, sedangkan alanchand.com melaporkan sekitar 2,695 juta rial per dolar.

Intervensi dilakukan melalui penjualan valuta asing oleh bank-bank milik negara. Televisi pemerintah Iran melaporkan bank-bank tersebut mulai menjual dolar AS hingga senilai 2 miliar dollar AS ketika rial terus melemah di pasar bebas.

Nilai intervensi itu setara sekitar Rp35,78 triliun dengan asumsi kurs Rp17.888 per dollar AS. Langkah tersebut diumumkan ketika perekonomian Iran menghadapi tekanan sanksi Amerika Serikat dan blokade laut.

Reuters melaporkan blokade Amerika Serikat memangkas salah satu sumber pendapatan utama pemerintah Iran, yakni ekspor minyak. Tekanan terhadap perekonomian juga berlangsung ketika inflasi Iran berada di atas 70 persen.

Kenaikan inflasi ikut menekan masyarakat yang menghadapi peningkatan biaya kebutuhan dasar dan sewa tempat tinggal. Di tengah pelemahan rial, warga Iran juga meningkatkan pembelian dolar AS, mata uang keras lainnya, dan emas sebagai tempat menyimpan nilai tabungan.

Mehdi Darabi, penasihat gubernur bank sentral Iran untuk urusan valuta asing, mengatakan pelemahan rial antara lain dipengaruhi prediksi pejabat Amerika Serikat mengenai potensi keruntuhan ekonomi Iran.

Darabi membantah bahwa kondisi tersebut mencerminkan keruntuhan ekonomi Iran dan menyebut pelemahan rial saat ini hanya bersifat sementara. Kepada televisi pemerintah Iran, dia mengatakan pihak lawan memanfaatkan dugaan keruntuhan ekonomi untuk memengaruhi nilai tukar mata uang Iran.

Tekanan terhadap rial berlangsung setelah mata uang itu kehilangan lebih dari separuh nilainya dalam satu tahun terakhir.

Intervensi hingga 2 miliar dollar AS dilakukan ketika rial mencapai level terendah baru di pasar bebas, sementara Iran menghadapi inflasi di atas 70 persen serta tekanan terhadap pendapatan dari ekspor minyak.

Editor: Michael Ivan
Share This Article
Jurnalis
Follow:
Lebih suka bekerja di balik layar, tapi pastikan selalu update dengan apa yang terjadi di luar sana.
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!