G30S 1965: Di Mana Soekarno dan Soeharto Saat 7 Perwira Diculik?

Michael Ivan
By
Michael Ivan
Jurnalis
Lebih suka bekerja di balik layar, tapi pastikan selalu update dengan apa yang terjadi di luar sana.
- Jurnalis
4 Min Read

HEADLINNEWS.ID – Enam jenderal dan satu perwira TNI Angkatan Darat menjadi korban penculikan dan pembunuhan dalam peristiwa G30S pada malam 30 September hingga dini hari 1 Oktober 1965. Pada saat itu, Presiden Soekarno tidak berada di Istana Merdeka, sedangkan Panglima Komando Strategis Angkatan Darat atau Pangkostrad Mayor Jenderal Soeharto berada di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta.

Soekarno malam itu menginap di Wisma Yaso, Jalan Gatot Subroto, kediaman istrinya, Ratna Sari Dewi. Keberadaan tersebut diketahui dari keterangan Kolonel Bambang Widjanarko serta informasi yang disampaikan Kolonel Sumirat dan AKBP Mangil Martowidjojo.

Pada 1 Oktober 1965 sekitar pukul 06.00 WIB, Soekarno meninggalkan Wisma Yaso menuju Istana Merdeka dengan diantar Mangil Martowidjojo dan pengawal pribadinya. Namun, ia mengubah tujuan setelah mendapat kabar bahwa Istana Merdeka dikepung pasukan bersenjata yang tidak dikenal.

Soekarno kemudian menuju rumah istri keduanya, Haryati, di Slipi, Jakarta Barat. Dari sana, ia mendapat saran untuk mengungsi ke Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma dan kemudian ditempatkan di rumah seorang perwira tinggi setelah disambut Panglima Angkatan Udara Omar Dhani.

Sekitar pukul 09.00 WIB, Soekarno semula dijadwalkan bertemu dengan sejumlah perwakilan Angkatan Darat. Namun, para jenderal yang hendak menemuinya telah tewas dan jenazah mereka kemudian ditemukan di Lubang Buaya, Jakarta Timur.

Soekarno selanjutnya memerintahkan Komisaris Besar Polisi Sumirat memanggil para panglima Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara, serta Panglima Kodam V/Jaya untuk memperoleh penjelasan mengenai situasi yang sedang berlangsung. Sekitar pukul 10.45 WIB, Brigadir Jenderal Sabur turut melaporkan kondisi keamanan kepada Soekarno.

Sekitar pukul 11.30 WIB, Soekarno mendatangi rumah Komodor Susanto, pilot pesawat Jet Star yang berpangkalan di Halim Perdanakusuma. Sekitar pukul 12.00 WIB, ia mendengar pengumuman melalui radio transmitter yang dipinjamkan Komodor Susanto, disampaikan Letnan Kolonel Untung dengan mengatasnamakan Dewan Revolusi.

Dalam situasi tersebut, Soekarno akhirnya diamankan ke Istana Bogor oleh pimpinan Resimen Cakrabirawa.

Sementara itu, Soeharto berada di RSPAD Gatot Subroto pada malam 30 September 1965. Dalam wawancara dengan Der Spiegel pada 19 Juni 1970, Soeharto mengatakan dirinya sedang menjaga putra bungsunya, Hutomo Mandala Putra atau Tommy, yang dirawat karena luka bakar akibat terkena sop panas.

Pada malam yang sama, Soeharto menyebut sempat didatangi Kolonel Abdul Latief, salah satu tokoh yang terlibat dalam G30S. Dalam wawancara tersebut, Soeharto mengatakan Latief tidak menyampaikan informasi mengenai rencana penculikan para jenderal dan justru berniat membunuhnya.

Keterangan itu berbeda dengan autobiografi Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya yang terbit pada 1988. Dalam buku tersebut, Soeharto menyatakan hanya melihat Latief dari kejauhan dan tidak sempat berinteraksi dengannya.

Pertanyaan lain muncul karena Soeharto, meski saat itu berpangkat mayor jenderal dan menjabat Pangkostrad, tidak termasuk dalam daftar perwira yang menjadi sasaran penculikan. Dalam kesaksiannya di Mahkamah Militer, Latief mengatakan Soeharto tidak dimasukkan ke daftar sasaran karena dianggap sebagai loyalis Soekarno.

Latief juga mengaku telah menyampaikan informasi mengenai rencana penculikan kepada Soeharto. Menurut kesaksiannya, pembicaraan mengenai isu Dewan Jenderal dan dugaan rencana kudeta juga pernah berlangsung di rumah Soeharto serta di RSPAD Gatot Subroto.

Namun, keterangan Latief mengenai pertemuannya dengan Soeharto berbeda dengan keterangan Soeharto sendiri. Perbedaan kesaksian tersebut menjadi bagian dari perdebatan sejarah mengenai apa yang diketahui Soeharto sebelum G30S dan alasan dirinya tidak menjadi sasaran penculikan.

Data sumber (Sumber: Kompas.com/Alinda Hardiantoro, Nur Fitriatus Shalihah, Rizal Setyo Nugroho) menunjukkan bahwa keberadaan Soekarno dan Soeharto pada saat G30S dapat ditelusuri melalui sejumlah kesaksian dan catatan yang dikutip sumber. Namun, alasan Soeharto tidak menjadi sasaran penculikan tidak dapat disajikan sebagai satu fakta tunggal karena keterangan Abdul Latief dan Soeharto mengenai pertemuan mereka serta pengetahuan Soeharto sebelum peristiwa tersebut berbeda.

Editor: Michael Ivan
Share This Article
Jurnalis
Follow:
Lebih suka bekerja di balik layar, tapi pastikan selalu update dengan apa yang terjadi di luar sana.
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!