HEADLINNEWS.ID β Politik Indonesia hari hari ini menjadi serupa drama Korea. Penuh intrik, penuh sandiwara, sulit ditebak, dan endingnya membuat publik dilanda tsunami ketidakberdayaan.
Kisah pemecatan, lebih tepat begitu, bukan pencopotan menjadi testimoni wajah, atau pun konstruksi politik paling mutakhir.
Apa biang pemecatan Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan pengganti Sri Mulyani yang banyak dijuluki Menteri Koboy ini?
Sejumlah spekulasi yang masuk akal, atau gosip liar berseliweran. Publik meriang, terhenyak, ada juga yang merintih, meratapi pemecatan sang Menteri. Ekonom, tokoh yang hadir dengan sejumlah harapan juga optimisme yang begitu membuhul, tiba-tiba kandas. Tragis memang, sekali lagi seperti drama Korea, kita dibuat masgul ketika sang lakon diperlakukan seperti itu.
Apa yang membuat sang pemilik hak prerogatif kalap, maaf kalau istilah ini terlalu vulgar, tetapi dari sisi mana pun eksekusi mantan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpang (LPS) dinilai publik bar-bar alias ugal-ugalan.
Negeri ini menjadi semacam mafia saja, mereka yang berbahaya tanpa ampun disikat. Pertanyaan kemudian, benarkah langkah atau kebijakan Purbaya menerak privilege yang dimiliki para mafia itu
Lhoooh, ini negara, apa pula dengan mafia, atau benarkah ada mafia yang menguasai negara ini. Adakah negara dalam negara sehingga kepatutan bernegara diterabas demi menyelamatkan kepentingan kepentingan subyektif penguasa, yang notabene tangan panjang atau bagian dari mafia.
Aaah, begitu saja kok repot. Biarin saja, biarlah waktu akan menjelaskan dan membeber narasi yang sesungguhnya.
Satu hal, masih terkait dengan drama Korea, kisah lanjutnya yang membuat publik dibuat panas dingin ke mana muara sesungguhnya. Karena tidak mungkin Prabowo Subiyanto, sang Presiden yang menjadi algojo tega melakukan itu, setidaknya untuk dua hal.
Pertama ada kekuatan besar yang Prabowo sendiri tidak mampu menghadapinya, dengan begitu hanya bisa tunduk, patuh, menjagal sekondannya sendiri.
Kedua, secara obyektif, ada langkah, kebijakan yang dinilai merugikan hajat warga bangsa ini, dalam konteks membuat regulasi di Kementerian Keuangan
Mari kita identifikasi, atau sejenak napak tilas kebijakan-kebijakan sang Menteri Koboy yang selalu menjadi media darling ini. Terkait dengan aspek ini kita dapat melihat bagaimana pasar menyikapi kebijakan-kebijakan yang ada.
Langkah pelonggaran likuiditas yang menjadi treatment awal ketika menjadi orang nomor satu di Departemen Keuangan, yakni pelonggaran fiskal justru direspon positif.
Dalam mengambil kebijakan Purbaya melakukan antitesa atas apa yang dilakukan Sri Mulyani. Menurutnya buat apa terlalu ketat menjaga fiskal, ketika pasar justru tertekan. Logika ini masuk akal, dengan stimulus yang dikucurkan ekonomi bergerak, artinya terjadi pertumbuhan. Ini berbeda dengan pendahulunya Sri Mulyani.
Artinya kalkulasi ini menjadi tidak relevan. Prabowo sendiri sempat memuji manuver yang dilakukan sang menteri dan diartikulasikan pada banyak kesempatan. Karenanya aneh, ketika dalam berbagai kesempatan banyak digadang-gadang, tetapi pada akhirnya dieksekusi sendiri oleh Prabowo.
Memijakkan kalkulasi di atas menjadi tidak masuk akal jika yang menjadi ikhwal pemecatan adalah persoalan di atas. Lalu apa, ini yang menjadi banyak sorotan berbagai kalangan, yakni intervensi mafia, ya mafia, kekuatan besar yang tidak mampu dihadapi bahkan oleh Presiden Prabowo sendiri.
Afirmasi janggal dapat menjadi tengara sebagaimana langkah yang dilakukan Suahasil Nazara sang penggantinya. Elok apa tidak, pagi pagi, atau belum apa apa Suahasil Nazara mengembalikan sejumlah pejabat yang dicopot sang penduhulu. Kok berani bener, mengapa Suahasil percaya diri melakukan itu? Ini pertanyaaan besar, yang ditunggu-tunggu sekaligus mengherankan penikmat drama Korea dengan judul, Siapa berani mengusik naga?
Jejak digital menjadi sebuah referensi aktual, 10 September lalu Purbaya mencopot sejumlah pejabat di Ditjen Pajak dan Ditjen Bea Cukai. Alasan dan pertimbangan sang menteri (baca Purbaya) jelas, kebijakan itu bagian dari strategi efisiensi dan pencegahan kebocoran.
Salah satu pernyataan telak dari institusi ini terjadi distorsi dan diskriminasi perlakuan terhadap sejumlah Pabrik yang disebut terafiliasi dengan Cina.
Andai dugaan ini benar, jelaslah pemantik yang membuat sang Presiden murka. Lantara kemurkaannya itu sang menteri dianggap tidak layak, atau tidak bisa dipertahankan lagi. Bisa-bisa memicu bumerang karena dia (Purbaya) berani mengusik naga.
Benar atau salah di media sosial mencuat sinyalemen keras Xi Jinping marah atas ulah Purbaya. Dia (Xi Jinping, seperti narasi di media sosial, segera mengontak dan mengultimatum Prabowo untuk mengeksekusi Purbaya.
Alakadabra, tobat-tobat, lanjutan cerita di Drama Korea jelas makin seru. Tanpa hujan, tanpa angin tiba-tiba petir menyambar, ketika sedang Rapat bersama dengan DPD Purbaya dipanggil Istana.
Setelahnya dia tidak kembali melanjutkan rapat, dan berita mengejutkan Sang Menteri Koboy dipecat, diganti Wakilnya Suahasil Nazara.
Andai Suahasil tidak buru-buru mengembalikan sejumlah pejabat yang dicopot publik masih menerka-nerka apa biang pemecatan itu. Tetapi syahwat Suahasil sepertinya menjadi sebuah afirmasi, lewat tagline berikut, βJangan mencoba-coba melawan naga (baca mafia), karena yang melakukan akan kena getahnya sendiri!β.
Selamat jalan Purbaya Yudhi Sadewa, anda turun tidak dengan kepala tunduk, tetapi tegak. Selamat mancing di kolam belakang rumah, dan merenung atau mencari jawaban kenapa dipecat. Tabik.
Jayanto Arus Adi, Wartawan Senior, Ahli Pers Dewan Pers, Asesor Uji Kompetensi Wartawan PWI Pusat, dan duduk sebagai Pengurus Pusat SMSI (Serikat Media Siber Indonesia) dan Plt Ketua SMSI Jateng. SMSI adalah salah satu konstituen Dewan Pers.
Tahun 2025 mengikuti PPNK Lemhanas RI Angkatan 227. Selain tetap aktif sebagai praktisi media, juga berkiprah sebagai konsultan media dan komunikasi. Ikut berkontribusi di Satu Pena (organisasi penulis yang dipimpin Denny JA).
Mengajar jurnalistik di beberapa kampus, juga aktif di MOJO (Mobile Jurnalis Indonesia) sebagai Ketua Umum Nasional. Saat ini tengah menempuh S3 (Program Doktoral) di Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Bidang yang dipilih adalah Prodi Pertanian, Komunikasi Agribisnis, dan Ketahanan Pangan.
Headlinnews.id adalah media online yang didirikan dan dinahkodai langsung sebagai CEO sekaligus Pemimpin Redaksi. Dengan tagline βDari Jawa Tengah untuk Indonesiaβ, media ini didedikasikan menjadi oase bagi informasi alternatif, sekaligus lokomotif penggiat civil society.

