HEADLINNEWS.ID – SEMARANG. Pembukaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXXI di Lapangan Simpang Lima, Semarang, Sabtu malam 12 September 2026, berlangsung meriah dengan memadukan syiar agama, seni budaya, hiburan, serta semangat persaudaraan. Acara ini menuai pujian luas dari peserta, pembina, hingga warga.
Bimas Islam Kementerian Agama Kabupaten Blitar, Muhlasin, menilai penyelenggaraan kali ini lebih baik dibandingkan sebelumnya, terutama dari sisi kemeriahan, keluasaan fasilitas, kualitas suara, serta lokasi yang strategis dan nyaman. Ia berharap penyelenggaraan mendatang semakin sukses dan meriah.
Pelatih Kafilah Maluku Utara, Drs. H. Umar Mukhtar, mengaku terkesan dengan sambutan hangat masyarakat, suasana religius yang kental, serta keragaman kuliner Jawa Tengah yang mengingatkannya pada kampung halaman.
Sementara itu, Pimpinan Kafilah Lampung, H. Makmur, menyoroti antusiasme warga yang luar biasa. Ia menegaskan bahwa tujuan utama MTQ bukan sekadar meraih kemenangan, melainkan membangun persaudaraan, menumbuhkan semangat olahraga yang jujur, serta menerapkan nilai-nilai Alquran dalam kehidupan sehari-hari. Ia juga mendukung gagasan penyelenggaraan MTQ setiap tahun agar pembinaan qari dan qariah semakin maju dan kompetitif.
Kesan positif juga datang dari warga. Puji, perantau asal Lampung, dan Fida dari Blora, mengaku kagum dengan kemegahan acara dan berharap kegiatan serupa lebih sering digelar.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi bersama Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen menyatakan pembukaan berjalan sukses dan megah. Pemerintah provinsi telah berupaya memberikan sambutan terbaik bagi 37 kafilah provinsi, agar acara ini menjadi milik seluruh masyarakat dan memancarkan pesan kedamaian serta persatuan bangsa.
Rangkaian acara dimulai dengan defile kafilah, dilanjutkan seremoni pembukaan. Kemeriahan diisi pertunjukan tari Rato Jaroeh, tarian kolosal Kisah Tanah Jawi, hingga penampilan penyanyi religi Opick. Pemasangan layar videotron besar memudahkan ribuan warga yang memadati lokasi hingga ke jalan raya sekitar untuk mengikuti seluruh jalannya acara.
Perpaduan unsur agama, budaya, dan partisipasi masyarakat menjadikan pembukaan ini bukan hanya awal perlombaan, melainkan wadah persatuan lintas daerah.

