HEADLINNEWS.ID – Jakarta, Perdagangan jam bekas di kawasan Batu Tulis, Kebon Kelapa, Gambir, Jakarta Pusat, tidak selalu ramai pembeli. Sejumlah pedagang tetap membuka kios hingga sore meski transaksi dan pemasukan harian tidak menentu.
Iqbal (50), pedagang jam yang sudah sekitar lima tahun berjualan di kawasan tersebut, mengatakan tokonya biasanya buka sejak pagi hingga sekitar pukul 17.00 WIB. Namun, tidak setiap hari ada transaksi.
“Kadang ada yang beli, kadang enggak. Yang penting buka dulu saja. Ikhtiar saja,” ujar Iqbal saat ditemui, Jumat (11/9/2026).
Jam yang dijual Iqbal merupakan barang bekas dengan jenis dan merek beragam, mulai dari jam fashion, jam analog, hingga merek lama. Sebuah Citizen, misalnya, ditawarkan sekitar Rp350.000, sementara harga jam lainnya bergantung pada merek, kondisi, dan jenisnya.
Dalam sehari, Iqbal terkadang hanya memperoleh pemasukan sekitar Rp50.000-Rp60.000. Penghasilan itu harus berhadapan dengan biaya bensin, makan, dan kebutuhan sehari-hari karena ia menempuh perjalanan dari Tangerang menuju Batu Tulis.
“Kalau dengan omzet segitu, income segitu, kita pengeluaran aja kurang,” kata Iqbal.
Menurut Iqbal, beberapa tempat yang sebelumnya digunakan untuk berdagang kini sudah tutup. Ia juga menyebut daya beli menjadi salah satu persoalan yang dirasakan pedagang.
“Udah pada pasrah, pedagangnya. Enggak usur-usur lah. Enggak satu orang. Semuanya ngerasain,” kata Iqbal.
Meski transaksi tidak menentu, pembeli masih mencari jam dengan model tertentu. Iqbal mengatakan anak muda masih datang mencari sejumlah merek, termasuk Seiko yang belakangan banyak ditanyakan setelah kembali ramai dibicarakan di media sosial.
Aktivitas reparasi juga masih berlangsung di kawasan tersebut. Dedi (45), tukang reparasi jam, mengatakan pelanggan membawa beragam jenis jam, termasuk jam tangan biasa, jam vintage, dan jam lama.
“Macam-macam. Ada jam tangan biasa, jam vintage, jam lama juga sering,” kata Dedi.
Dedi memeriksa kondisi jam sebelum menentukan pekerjaan yang diperlukan. Kerusakan dapat berasal dari baterai, mesin, atau bagian lain, sedangkan jam lama perlu diperiksa lebih lanjut karena kondisi mesinnya berbeda-beda.
“Saya cek dulu jamnya. Dilihat apakah masalahnya dari baterai, mesin, atau bagian lainnya,” ujar dia.
Menurut Dedi, sebagian pemilik tetap memilih memperbaiki jam lama meski kerusakannya berasal dari mesin. Alasannya antara lain karena jam tersebut masih bagus atau memiliki nilai bagi pemiliknya, termasuk jam pemberian orangtua atau yang sudah lama digunakan.
“Biasanya karena jamnya memang masih bagus atau punya nilai buat pemiliknya. Ada juga yang jam pemberian orangtua atau sudah lama dipakai, jadi walaupun rusak tetap mau diperbaiki,” kata dia.
Di sisi pembeli, Emma (28) datang ke salah satu toko karena tertarik melihat deretan jam di etalase. Ia menyukai model klasik dan belum menentukan jam tertentu untuk dibeli.
“Kalau jam sekarang kan banyak yang desainnya hampir mirip, apalagi smartwatch bentuknya begitu-begitu saja. Kalau jam lama saya merasa punya karakter sendiri,” ujar Emma.
Bian (24) juga melihat beberapa jam vintage sebelum memutuskan membeli. Ia mempertimbangkan kondisi kaca, bodi, tali, dan mesin, dengan harga di bawah Rp1 juta masih menjadi batas yang dapat dipertimbangkan.
“Kalau jam saya lebih nyaman lihat langsung. Bisa pegang barangnya, lihat kondisi kaca, bodi, tali, terus bisa tanya ke penjual,” ujar Bian.

