Gunung Anak Krakatau Masih Siaga, 7 Gempa Terekam hingga Siang

Michael Ivan
By
Michael Ivan
Jurnalis
Lebih suka bekerja di balik layar, tapi pastikan selalu update dengan apa yang terjadi di luar sana.
- Jurnalis
2 Min Read

HEADLINNEWS.ID – Jakarta, Aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berlangsung dengan tujuh kejadian gempa tercatat pada Jumat, 11 September 2026, pukul 06.00 hingga 12.00 WIB. Pada periode yang sama, sebaran abu vulkanik dari gunung tersebut tidak terdeteksi di atmosfer hingga pukul 13.00 WIB berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9 BMKG.

Data Magma Indonesia mencatat tujuh kejadian kegempaan yang terdiri atas satu gempa Low Frequency, empat gempa Hybrid atau Fase Banyak, satu gempa Vulkanik Dalam, dan satu gempa Tremor Menerus.

Gempa Low Frequency tercatat dengan amplitudo 34 mm dan durasi enam detik. Empat gempa Hybrid atau Fase Banyak memiliki amplitudo 11 hingga 23 mm dengan durasi delapan hingga 11 detik.

Sementara itu, gempa Vulkanik Dalam tercatat memiliki amplitudo 41,3 mm, S-P 0,8 detik, dan durasi 13 detik. Gempa Tremor Menerus memiliki amplitudo 1 hingga 8 mm dengan amplitudo dominan 2 mm.

Dari pengamatan citra RGB Himawari-9 BMKG, hingga pukul 13.00 WIB tidak ditemukan sebaran debu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Kondisi tersebut tercatat pada periode pengamatan ketika aktivitas seismik masih berlangsung.

Pengamatan visual pada periode yang sama menunjukkan Gunung Anak Krakatau tertutup kabut dengan intensitas 0 hingga III. Asap kawah tidak teramati, sedangkan cuaca di sekitar gunung berkisar cerah hingga berawan.

Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III atau Siaga. Masyarakat, wisatawan, dan pendaki tidak diperbolehkan memasuki radius tiga kilometer dari pusat aktivitas gunung.

Masyarakat juga diminta mewaspadai potensi awan panas, aliran lava, lontaran batu pijar, serta kemungkinan hujan abu lebat jika terjadi erupsi.

Warga di wilayah pesisir Provinsi Banten dan Lampung diimbau tetap mengikuti arahan Badan Penanggulangan Bencana Daerah setempat.

Aktivitas kegempaan masih tercatat ketika sebaran abu vulkanik tidak terdeteksi hingga pukul 13.00 WIB. Status Level III atau Siaga dan pembatasan radius tiga kilometer menjadi informasi keselamatan utama dalam data sumber, sementara kondisi visual gunung pada periode pengamatan dipengaruhi kabut.

Editor: Michael Ivan
Share This Article
Jurnalis
Follow:
Lebih suka bekerja di balik layar, tapi pastikan selalu update dengan apa yang terjadi di luar sana.
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!