HEADLINNEWS.ID – TANGERANG, Kuarta Teknologi memamerkan teknologi simulasi APBD yang mengukur dampak ekonomi belanja daerah berbasis data di Apkasi Otonomi Expo (AOE) 2026, ICE BSD, Tangerang, Sabtu (29/8/2026).
Teknologi tersebut menggunakan Tabel Input-Output (I-O) dari Badan Pusat Statistik (BPS), data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), dan data APBD untuk memetakan dampak anggaran terhadap sektor-sektor ekonomi.
Faisol, Insinyur Senior (Purnabakti) yang memiliki latar belakang riset di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengatakan pengukuran dampak APBD masih menjadi celah dalam digitalisasi pemerintahan.
“Secara umum, transformasi digital di pusat dan daerah sudah banyak dilakukan. Namun, celah yang masih perlu diperhatikan serius adalah bagaimana kita mengukur dampak APBD di daerah-daerah,” ujar Faisol di ICE BSD.
Menurut Faisol, simulasi tersebut dapat digunakan untuk menghitung dampak alokasi anggaran terhadap sektor ekonomi. Salah satu contohnya adalah mengukur kontribusi anggaran pertanian terhadap PDRB, efek terhadap industri pengolahan lokal, hingga lapangan kerja yang tercipta.
“Semua itu harusnya bisa diukur. Itu yang kami coba siapkan melalui teknologi simulasi ini,” katanya.
Kuarta Teknologi memanfaatkan matriks I-O yang diterbitkan BPS setiap lima tahun. Data tersebut mencakup struktur hubungan antarindustri dalam 17, 52, hingga 180 sektor ekonomi.
Faisol mengatakan pemerintah daerah dapat memasukkan data I-O, PDRB, dan APBD ke dalam sistem untuk memperoleh hasil simulasi. Menurut dia, proses tersebut sebelumnya dapat membutuhkan waktu berbulan-bulan ketika dilakukan melalui kajian oleh Bappeda atau Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) bersama perguruan tinggi.
“Dari proses manual yang lama, kini bisa instan,” ujar Faisol.
Ia juga mengatakan hasil simulasi dapat digunakan untuk melihat sektor ekonomi yang paling responsif terhadap alokasi anggaran serta menjadi bahan dalam menentukan prioritas belanja daerah.
“Kalau struktur APBD tidak disusun dengan benar, dampak ke masyarakat akan mengecil. Kami hadir untuk memberikan instrumen agar anggaran tepat sasaran,” katanya.
Dalam paparannya, Kuarta Teknologi mengaitkan penggunaan simulasi dengan pengelolaan APBD sebagai instrumen investasi daerah. Faisol mengatakan pemetaan dampak anggaran juga dapat digunakan pemerintah daerah dalam menarik minat investor.
AOE 2026 menjadi lokasi Kuarta Teknologi memamerkan teknologi tersebut. Gelaran itu diikuti ratusan kabupaten/kota dari Indonesia.
Teknologi yang ditawarkan Kuarta Teknologi berangkat dari penggunaan data I-O, PDRB, dan APBD untuk menghitung dampak ekonomi belanja daerah. Namun, klaim mengenai kemampuan simulasi menghasilkan perhitungan secara instan dan mengukur dampak ekonomi secara akurat masih bersumber dari pernyataan pihak Kuarta Teknologi sehingga perlu verifikasi independen sebelum dijadikan dasar pemberitaan yang lebih luas.

