HEADLINNEWS.ID – SEMARANG – Festival Tari Dug Dug Der digelar di Simpang Lima, Kota Semarang yang melibatkan 25 ribu peserta, pada Minggu (9/8) pagi. Penyelenggaran yang berlangsung tersebut berhasil memecahkan Rekor Lembaga Prestasi Indonesia-Dunia (LEPRID) sebagai “Pemrakarsa dan Penyelenggara Rekor Festival Nari Bareng ‘Dug Dug Der Semarangan’ diikuti Peserta Terbanyak.”
Walikota Semarang Agustina Wilujeng mengapresiasi keberhasilan acara yang diadakan dengan meriah dan diikuti masyarakat luas.
Bagi Agustina, pencapaian ini menunjukkan kebersamaan seluruh warga Kota Semarang dalam merawat tradisi lokal.
“Rekor ini bukan tujuan akhir. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana masyarakat ikut memiliki dan mencintai budaya Kota Semarang. Ketika 25 ribu orang menari bersama, kita melihat ada kebersamaan, kegembiraan, dan rasa bangga menjadi bagian dari Kota Semarang,” kata Agustina.
Walikota Agustina menilai, Tari Dug Dug Der Semarangan menjadi sesuatu yang berharga untuk memperkenalkan tradisi lokal ke ruang publik sekaligus mendekatkan kekayaan keberagaman tersebut dengan generasi muda.
“Budaya harus hidup. Anak-anak muda harus mengenal, mempelajari, dan ikut mengekspresikannya. Kalau masyarakat ikut menari, budaya itu tidak disimpan sebagai sejarah semata, melainkan benar-benar menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari,” ucap Agustina.
Budaya yang dimiliki Kota Semarang berupa Tari Dug Dug Der Semarangan memiliki keterkaitan erat dengan tradisi Dugderan yang berkembang sejak abad ke-19. Nama Dugderan berasal dari perpaduan bunyi bedug “dug” dan dentuman meriam “der” sebagai penanda datangnya bulan Ramadan. Selama ini, tradisi tersebut berhubungan dengan ikon Warak Ngendog yang merepresentasikan akulturasi budaya di Kota Semarang.
Terlebih, penyelenggaraan Festival Nari Bareng Dug Dug Der Semarangan juga menjadi bagian dari rangkaian menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Agustina menilai semangat persatuan yang tercermin dalam kegiatan tersebut sejalan dengan nilai kebangsaan yang perlu terus ditanamkan kepada generasi penerus.
Dengan semangat untuk terus melestarikan budaya dan mengajak masyarakat selalu mendukung, Walikota Agustina berharap menjadi pemantik agar gerakan kebudayaan di Kota Semarang terus berjalan secara konsisten melalui sekolah, sanggar seni, komunitas, hingga tingkat kelurahan. Serta, terus mendapatkan dukungan dari berbagai elemen masyarakat.
“Kemerdekaan mengajarkan kita untuk bersatu dalam keberagaman. Budaya yang hidup di tengah perkembangan zaman menjadi bahasa yang efektif untuk mempererat kebersamaan serta kerukunan masyarakat. Dalam pelestarian tradisi dan budaya, seluruh pihak harus terlibat ikut mendukung, mulai dari aparatur, komunitas, seniman, dunia usaha, hingga masyarakat. Kolaborasi seperti inilah yang harus terus kita bangun,” kata Agustina.

