HEADLINNEWS.ID – Temanggung, Sebuah bola berwarna merah meluncur perlahan di atas lapangan. Mata Rifandia Lukas mengikuti arah geraknya dengan penuh harap. Beberapa detik kemudian, sorak-sorai pun pecah. Bola itu berhenti dekat sasaran.
Rifandia tersenyum lebar, tangannya mengepal kecil, sementara teman-teman di sekelilingnya ikut bertepuk tangan. Bukan karena hadiah yang menanti, melainkan karena setiap lemparan adalah keberanian untuk kembali percaya pada diri sendiri.
“Sangat asyik, seru, dan menyenangkan,” ucapnya singkat usai mengikuti lomba bocce dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Sentra Terpadu Kartini Temanggung, Kamis (6/8/2026).
Hari itu, kemenangan bukanlah soal menjadi juara. Meski berhasil meraih posisi kedua, Rifandia mengaku kebersamaan selama perlombaan menjadi hadiah yang paling berkesan.
Di Sentra Terpadu Kartini, peringatan kemerdekaan memiliki makna yang jauh lebih dalam. Penyandang disabilitas, Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), hingga Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH) berdiri di garis start yang sama. Tidak ada sekat. Tidak ada label. Yang terdengar hanya tawa, tepuk tangan, dan saling memberi semangat.
Bagi sebagian orang, lomba lempar bola bocce mungkin hanya permainan sederhana. Namun di tempat ini, setiap gerakan menyimpan proses pemulihan. Menggenggam bola, mengatur napas, menentukan arah lemparan, lalu menerima hasilnya adalah latihan untuk mengendalikan emosi, melatih konsentrasi, dan membangun kembali rasa percaya diri yang mungkin pernah hilang.
Pekerja Sosial Sentra Terpadu Kartini Temanggung, Sartono, menjelaskan bahwa seluruh rangkaian perlombaan memang dirancang sebagai bagian dari rehabilitasi sosial.
Momentum kemerdekaan, katanya, dimanfaatkan untuk menghadirkan ruang belajar yang menyenangkan. Melalui permainan, para penerima manfaat dilatih disiplin, bertanggung jawab, bekerja sama, serta berani berinteraksi dengan orang lain.
Bocce dipilih bukan tanpa alasan. Cabang olahraga yang telah dipertandingkan dalam Special Olympics tingkat internasional itu mampu melatih koordinasi motorik halus, keseimbangan tubuh, ketepatan, dan fokus. Terapi yang diberikan tidak terasa seperti terapi, melainkan berubah menjadi permainan yang penuh kegembiraan.
Selain bocce, peserta mengikuti lomba makan kerupuk, estafet, joget balon, menangkap belut, hingga jalan sehat. Setiap aktivitas menghadirkan kesempatan untuk tertawa, bergerak, dan merasakan bahwa mereka adalah bagian dari sebuah keluarga besar.
Kini sekitar 80 penerima manfaat menjalani rehabilitasi residensial di Sentra Terpadu Kartini Temanggung. Mereka datang dengan latar belakang yang berbeda, membawa cerita dan luka masing-masing.
Namun di lapangan sederhana itu, bola-bola bocce mengajarkan satu hal: pemulihan tidak selalu dimulai dari ruang terapi yang sunyi. Kadang, ia lahir dari tawa yang tulus, tepuk tangan seorang teman, dan keberanian untuk kembali melempar harapan ke masa depan.
Semangat kemerdekaan akhirnya bukan sekadar mengenang perjuangan bangsa, tetapi juga menjadi simbol perjuangan pribadi setiap penerima manfaat untuk bangkit, menemukan kembali kepercayaan diri, dan suatu hari pulang ke tengah masyarakat dengan harapan yang baru. (Aiz;Ekp)

