Advertisement
Iklan dapat dilewati dalam 5

Paradoks Kemandirian Bangsa

Sudadi
By
Sudadi
Sudadi, yang akrab disapa Dadik, adalah wartawan senior, veteran Pasukan Perdamaian PBB Kontingen Garuda VIII/UNEF yang bertugas di Sinai, Timur Tengah, pada 1978–1979, serta veteran perdamaian....
2 Min Read
Sudadi, Wartawan Senior, Mantan Pasukan Garuda VIII Mesir, Pemimpin Perusahaan HeadlinnNews.id
Oleh: Sudadi

HEADLINNEWS.IDPresiden berulang kali menegaskan pentingnya kemandirian bangsa—mandiri dalam pangan, energi, industri, teknologi, hingga kesehatan. Gagasan itu patut didukung. Bangsa yang besar memang harus percaya pada kemampuan dirinya sendiri.

Namun, pesan tersebut akan kehilangan daya apabila tidak disertai keteladanan dari para pejabat dan elite.

Keputusan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik Sudaryati Deyang mengundurkan diri untuk menjalani pengobatan di luar negeri, disusul pengacara kondang Hotman Paris yang juga memilih berobat ke luar negeri, memunculkan ironi yang sulit diabaikan. Tentu, berobat ke luar negeri adalah hak setiap warga negara. Namun, ketika pilihan itu diambil oleh pejabat negara atau tokoh publik, masyarakat berhak bertanya: apakah para elite sendiri belum sepenuhnya yakin terhadap kualitas layanan kesehatan nasional?

Inilah paradoks yang mengusik. Di satu sisi, rakyat diajak membangun kepercayaan terhadap kemampuan bangsa sendiri. Di sisi lain, sebagian elite justru memberi kesan bahwa solusi terbaik berada di luar negeri.

Membangun kemandirian tidak cukup dengan pidato, slogan, atau program. Kemandirian juga dibangun melalui keteladanan. Kepercayaan kepada kemampuan bangsa harus dimulai dari para pemimpin dan tokoh yang menjadi panutan publik.

Membangun rumah sakit modern, meningkatkan kualitas tenaga kesehatan, dan memperkuat riset medis memerlukan anggaran besar. Namun, ada satu modal yang tak kalah penting: kepercayaan. Jika para elite sendiri lebih memilih mencari pengobatan ke luar negeri, bagaimana kepercayaan publik terhadap layanan kesehatan nasional akan tumbuh?

Nasionalisme bukan sekadar kata-kata. Nasionalisme diuji melalui pilihan dan tindakan. Sebab, keteladanan selalu berbicara lebih lantang daripada pidato.

Sudadi, yang akrab disapa Dadik, adalah wartawan senior, veteran Pasukan Perdamaian PBB Kontingen Garuda VIII/UNEF yang bertugas di Sinai, Timur Tengah, pada 1978–1979, serta veteran perdamaian. Saat ini, ia juga menjabat sebagai Pengurus Pusat LVRI dan Pemimpin Perusahaan Headlinenews.id.

Editor: HL-News
Share This Article
Follow:
Sudadi, yang akrab disapa Dadik, adalah wartawan senior, veteran Pasukan Perdamaian PBB Kontingen Garuda VIII/UNEF yang bertugas di Sinai, Timur Tengah, pada 1978–1979, serta veteran perdamaian. Saat ini, ia juga menjabat sebagai Pengurus Pusat LVRI dan Pemimpin Perusahaan Headlinenews.id.
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!