Advertisement
Iklan dapat dilewati dalam 5

Harga Minyak Tembus US$100, Bursa Global Tertekan, Emas Malah Turun

Michael Ivan
By
Michael Ivan
Jurnalis
Lebih suka bekerja di balik layar, tapi pastikan selalu update dengan apa yang terjadi di luar sana.
- Jurnalis
4 Min Read

HEADLINNEWS.IDJakarta, Harga minyak mentah Brent menembus US$100 per barel pada perdagangan Kamis setelah sempat menyentuh US$101,04 atau naik 7,4 persen. Lonjakan dipicu meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang turut menekan pasar saham global dan membuat harga emas justru melemah.

Kenaikan minyak dipicu klaim militan Houthi yang menyatakan menyerang dua kapal tanker Saudi di Laut Merah serta menegakkan blokade pelabuhan Saudi. Perkembangan itu memperluas gangguan jalur distribusi energi dari Selat Hormuz ke Bab el-Mandeb, rute alternatif yang digunakan Arab Saudi.

Di Eropa, mayoritas indeks saham ditutup melemah. DAX turun 0,42 persen, CAC 40 terkoreksi 0,85 persen, sementara FTSE MIB, IBEX 35, dan Stoxx 50 juga turun lebih dari 0,5 persen. Indeks Athena mencatat pelemahan terdalam sebesar 1,4 persen.

Pasar Eropa juga menanti keputusan Bank Sentral Eropa (ECB). Pelaku pasar memperkirakan suku bunga tetap di level 2,4 persen, namun bank sentral diperkirakan memberi sinyal kemungkinan kenaikan suku bunga pada September.

Di tengah pelemahan indeks, saham TotalEnergies justru menguat ke level tertinggi sejak 12 Juni setelah membukukan laba bersih US$5,4 miliar, didorong kenaikan harga minyak.

Tekanan juga terjadi di Wall Street. S&P 500 turun 1,2 persen, sementara saham-saham berkapitalisasi besar mengalami pelemahan terdalam sejak gejolak tarif pada April 2025.

Alphabet merosot 7 persen meski membukukan laporan keuangan yang kuat karena belanja modalnya dinilai terlalu besar. Tesla turun 14 persen setelah laba perusahaan menurun meski pengiriman kendaraan listrik tetap bertumbuh.

Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun naik mendekati 4,63 persen atau tertinggi dalam hampir dua bulan. Penguatan yield disertai menguatnya dolar AS menjadi faktor yang menekan harga emas.

Harga emas dunia turun sekitar 1 persen ke kisaran US$4.088 per troy ons setelah sebelumnya sempat mencapai level tertinggi dalam dua pekan. Pelemahan terjadi meski konflik geopolitik kembali meningkat.

Data pasar menunjukkan kenaikan harga minyak mendorong ekspektasi inflasi, yang kemudian mengangkat imbal hasil obligasi dan memperkuat dolar AS. Kondisi tersebut meningkatkan biaya peluang memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil.

Pelaku pasar juga mulai memperhitungkan peluang Federal Reserve menaikkan suku bunga pada September dengan probabilitas sekitar 55-68 persen. Di sisi lain, perhatian pasar kini tertuju pada keputusan ECB, data klaim pengangguran mingguan Amerika Serikat, PMI Juli, serta rapat FOMC pada 29 Juli.

Menurut analis Komunitas Jago FX (KJFX), pergerakan pasar saat ini lebih dipengaruhi perubahan ekspektasi inflasi dan arah kebijakan bank sentral dibanding fungsi emas sebagai aset lindung nilai. Selama harga minyak tetap tinggi dan imbal hasil obligasi menguat, tekanan terhadap emas diperkirakan masih akan berlangsung meski ketegangan geopolitik belum mereda.

Lonjakan harga minyak menjadi faktor dominan yang mengubah arah pergerakan aset global. Di tengah meningkatnya risiko geopolitik yang biasanya mendukung kenaikan emas, pasar justru lebih fokus pada dampak inflasi, kenaikan imbal hasil obligasi, penguatan dolar AS, serta peluang kebijakan moneter yang lebih ketat. Kondisi tersebut membuat pasar energi, pasar saham, obligasi, dan logam mulia bergerak dalam arah yang saling memengaruhi.

Editor: Michael Ivan
Share This Article
Jurnalis
Follow:
Lebih suka bekerja di balik layar, tapi pastikan selalu update dengan apa yang terjadi di luar sana.
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!