Advertisement
Iklan dapat dilewati dalam 5

GNPK RI Apresiasi Pemkab Banjarnegara Perkuat Pendidikan Karakter Antikorupsi di Sekolah

Arief Ferdianto
6 Min Read
Foto bersama jajaran Inspektorat Kabupaten Banjarnegara, Dinas Dikpora, GNPK RI Kabupaten Banjarnegara, kepala sekolah, guru, dan ratusan siswa SMP Negeri 1 Mandiraja usai pelaksanaan Program Banjarnegara Muda "Berani Jujur, Hebat Masa Depan" dalam rangka penguatan pendidikan karakter antikorupsi dan Sekolah Berintegritas, Kamis (23/7/2026).

HEADLINNEWS.IDBANJARNEGARA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banjarnegara terus memperkuat pendidikan karakter antikorupsi bagi generasi muda melalui program Banjarnegara Muda “Berani Jujur, Hebat Masa Depan”. Program tersebut menjadi bagian dari upaya membangun budaya integritas sejak dini di lingkungan sekolah.

Kegiatan yang digelar di GOR SMP Negeri 1 Mandiraja, Kamis (23/7/2026), merupakan hasil kolaborasi antara Inspektorat Kabupaten Banjarnegara dan Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Dikpora) Kabupaten Banjarnegara.

Dalam kegiatan tersebut, peserta didik juga mendapatkan pembekalan dari Gerakan Nasional Pencegahan Korupsi Republik Indonesia (GNPK RI) Kabupaten Banjarnegara sebagai narasumber.

Program ini menjadi langkah konkret pemerintah daerah dalam menginternalisasikan nilai-nilai antikorupsi secara sistematis dan berkelanjutan di satuan pendidikan.

Pelaksanaan tersebut mengacu pada Peraturan Bupati (Perbup) Banjarnegara Nomor 45 Tahun 2019 tentang Implementasi Penerapan Karakter Antikorupsi yang menempatkan sekolah sebagai ruang pembentukan karakter peserta didik yang jujur, disiplin, dan bertanggung jawab.

Kepala SMP Negeri 1 Mandiraja, Bambang Kuseno, mengatakan sekolahnya merasa bangga dipercaya menjadi salah satu pilot project Sekolah Berintegritas di Kabupaten Banjarnegara.

Menurut Bambang, penguatan budaya integritas merupakan proses panjang yang harus dibangun secara konsisten, bukan sekadar kegiatan seremonial.

“Pembentukan budaya integritas bukanlah kegiatan instan, melainkan proses berkelanjutan. Hari ini menjadi momen penting penguatan internalisasi nilai-nilai tersebut bagi siswa kami, khususnya kelas 9. Harapannya, setelah lulus nanti mereka membawa karakter berintegritas ke jenjang pendidikan berikutnya dan mampu menularkannya kepada teman-teman dari sekolah lain,” ujarnya.

Selama satu tahun terakhir, kata Bambang, sekolah berfokus menanamkan tiga nilai utama, yakni kejujuran, tanggung jawab, dan disiplin sebagai fondasi pembentukan karakter peserta didik.

Untuk mendukung implementasi nilai integritas dalam kehidupan sehari-hari, SMP Negeri 1 Mandiraja mengembangkan sejumlah inovasi. Salah satunya adalah aplikasi SIMANJA (Sistem Informasi Manajemen Kehadiran) berbasis digital yang memungkinkan siswa dan orang tua memantau kehadiran serta kedisiplinan secara transparan.

Selain itu, sekolah juga menerapkan Kesepakatan Kelas, yakni aturan yang disusun secara partisipatif oleh siswa bersama wali kelas guna menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan bertanggung jawab.

Sekolah juga membentuk Duta Integritas, yaitu siswa yang dipilih sebagai teladan dalam mengampanyekan budaya kejujuran di berbagai kegiatan sekolah. Program tersebut dipersiapkan secara berkelanjutan dengan melibatkan peserta didik sejak kelas VII dan VIII.

Tak hanya itu, kampanye budaya antikorupsi juga dilakukan melalui berbagai kegiatan sekolah, termasuk penyisipan pesan-pesan integritas dalam agenda massal seperti jalan sehat.

Kepala Dikpora Kabupaten Banjarnegara, Yusuf Agung Prabowo, menegaskan bahwa pendidikan karakter antikorupsi memiliki dasar hukum yang kuat dan menjadi bagian penting dalam membentuk generasi yang berintegritas.“Inspektorat dan Dikpora berkolaborasi erat untuk menegakkan nilai karakter antikorupsi di jajaran sekolah dasar dan menengah. Melalui kegiatan ini, siswa diajak mempraktikkan langsung kejujuran, kemandirian, kedisiplinan, tanggung jawab, serta keberanian berbuat baik. Kejujuran merupakan kunci utama menjaga keberlangsungan masa depan bangsa,” kata Yusuf.

Sementara itu, Inspektur Kabupaten Banjarnegara, Agung Yusianto, mengatakan penanaman nilai integritas dilakukan melalui pendekatan yang komunikatif sehingga lebih mudah diterima peserta didik.

Menurutnya, siswa tidak hanya diberikan teori mengenai antikorupsi, tetapi juga diajak berdialog dan memahami secara nyata mengapa perilaku seperti menyontek maupun perundungan merupakan tindakan yang bertentangan dengan nilai integritas.

“Kami menanamkan integritas secara bertahap dan alami. Pendekatannya bukan menggurui, melainkan melalui dialog yang komunikatif sehingga siswa memahami secara faktual mengapa perilaku tidak jujur maupun tindakan membully harus dihindari,” ujarnya.

Agung menegaskan, konsep Sekolah Berintegritas tidak hanya ditujukan kepada peserta didik, tetapi juga mencakup seluruh unsur sekolah, mulai dari kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, komite sekolah, hingga orang tua.

Bagi tenaga pendidik, integritas diwujudkan melalui pengelolaan anggaran sekolah yang akuntabel serta proses pembelajaran yang menjunjung tinggi nilai kejujuran dan tanggung jawab.

Setelah tahap uji coba di SD Negeri 1 Mandiraja dan SMP Negeri 1 Mandiraja selesai, Inspektorat bersama Dikpora akan melakukan evaluasi menyeluruh sebagai dasar pengembangan program.

“Hasil evaluasi akan menjadi pijakan untuk memperluas implementasi Sekolah Berintegritas ke sekolah-sekolah lain di seluruh wilayah koordinasi pendidikan maupun perangkat daerah di Kabupaten Banjarnegara,” kata Agung.

Sementara, Kepala Bidang Pengawas Internal GNPK RI Kabupaten Banjarnegara, Rahman Hidayat N, mengapresiasi langkah Inspektorat Daerah dan Dikpora yang telah menginisiasi program penguatan integritas bagi peserta didik.

Menurut Rahman, penanaman nilai-nilai antikorupsi sejak usia dini merupakan investasi jangka panjang dalam membentuk karakter generasi penerus yang berintegritas serta memiliki komitmen menjaga tata kelola pemerintahan yang bersih di masa depan.“Dengan adanya kegiatan ini, GNPK RI Kabupaten Banjarnegara berharap pendidikan karakter dapat ditanamkan sejak usia dini sehingga ketika mereka tumbuh dewasa menjadi pribadi yang berintegritas, jujur, bertanggung jawab, serta memiliki komitmen untuk menolak segala bentuk perilaku koruptif di mana pun mereka berada,” ujar Rahman.

Ia menambahkan, pembentukan budaya integritas tidak dapat dibebankan hanya kepada sekolah. Menurutnya, keberhasilan pendidikan karakter memerlukan sinergi seluruh elemen, mulai dari pemerintah, tenaga pendidik, orang tua, hingga masyarakat agar nilai-nilai kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab dapat tertanam secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

“Melalui kolaborasi seluruh pihak, pendidikan antikorupsi diharapkan menjadi gerakan bersama yang mampu melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas yang kuat sebagai bekal membangun bangsa,” kata Rahman.

Editor: Arief Ferdianto
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!