HL-NEWS.COM — Nilai tukar rupiah mengalami tekanan signifikan pada perdagangan Jumat (15/5/2026) dan sempat menyentuh level Rp17.612 per dolar Amerika Serikat (AS). Angka tersebut tercatat sebagai pelemahan terdalam rupiah sepanjang sejarah perdagangan.
Pergerakan mata uang domestik ini tidak terlepas dari kondisi global yang masih dipenuhi ketidakpastian, terutama eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Timur Tengah. Situasi tersebut mendorong penguatan dolar AS terhadap berbagai mata uang dunia, termasuk rupiah.
Sejumlah analis menilai tekanan terhadap rupiah belum menunjukkan tanda mereda. Faktor geopolitik yang masih berlanjut serta potensi kenaikan harga minyak dunia disebut menjadi pemicu utama yang menahan penguatan mata uang negara berkembang.
Analis pasar uang sekaligus Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, menyebut pelemahan yang terjadi telah membawa rupiah ke titik terendah dalam sejarah. Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut sangat dipengaruhi oleh sentimen eksternal yang berasal dari ketegangan global.
Senada dengan itu, pengamat ekonomi dan mata uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut. Ia bahkan menyebut kemungkinan nilai tukar dapat bergerak menuju level Rp18.000 per dolar AS apabila ketegangan geopolitik tidak segera mereda.
Menurutnya, konflik yang berlangsung di Timur Tengah berpotensi menjadi faktor jangka menengah yang menjaga tekanan terhadap rupiah, terutama jika harga minyak tetap berada pada level tinggi dalam periode yang lebih panjang.
Di sisi lain, pelemahan rupiah memberikan dampak yang beragam terhadap pelaku ekonomi. Sektor ekspor berpotensi diuntungkan karena harga produk Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar internasional, namun di sisi lain investor dinilai cenderung lebih berhati-hati dalam menempatkan dana di pasar domestik akibat meningkatnya ketidakpastian global.

