Advertisement
Iklan dapat dilewati dalam 5

Tim Pendukung Jadi Kunci Sukses Ekspedisi Cicatih Elpala 2026

Michael Ivan
By
Michael Ivan
Jurnalis
Lebih suka bekerja di balik layar, tapi pastikan selalu update dengan apa yang terjadi di luar sana.
- Jurnalis
5 Min Read
Pada 5 Juli 2026, suasana base camp semakin ramai dengan kedatangan tim talent, tim pendukung, dan para alumni Elpala.

HEADLINNEWS.IDSetiap ekspedisi besar selalu memiliki dua sisi. Di satu sisi ada tim yang menembus hutan, mendaki gunung, dan mengarungi sungai. Di sisi lain, ada tim yang bekerja di balik layar untuk memastikan setiap langkah berjalan aman, logistik tersedia, komunikasi tetap tersambung, dan seluruh anggota kembali dengan selamat.

Begitulah gambaran di balik Ekspedisi Cicatih Elpala 2026. Selain tim yang menyusuri hutan Taman Nasional Gunung Halimun Salak hingga mengarungi Sungai Cicatih menuju Pelabuhan Ratu, terdapat tim pendukung yang menjadi tulang punggung operasional lapangan.

Operasional base camp dikendalikan Raihana Hayatunufus, Syahira Putria Adantie, dan Akmal Kurniawan. Ketiganya memastikan kebutuhan logistik, komunikasi, administrasi, serta koordinasi antartim berjalan tanpa hambatan. Mereka didukung tim Rumah Elpala yang terdiri atas Wina Maria, Mohammad Farish, Surya Pagi Asa, Hendrata Yudha, Susan Indahwati, Hizkia Mandagie, Onaria Fransisca, dan Tomi Budiarto.

Menurut mereka, keberhasilan ekspedisi tidak hanya ditentukan kemampuan tim di lapangan, tetapi juga kesiapan tim pendukung yang bekerja di balik layar. Setiap keputusan, distribusi logistik, dan arus informasi harus berjalan tepat waktu agar perjalanan tetap aman.

Raihana Hayatunufus mengatakan, pekerjaan tim base camp dimulai sejak hari pertama kedatangan di Cimelati pada 4 Juli 2026. Saat sebagian peserta masih melihat lokasi ekspedisi, tim base camp langsung menyusun tata letak tenda, membangun posko, menyiapkan logistik bagi tim yang akan masuk hutan, serta menjalin komunikasi dengan masyarakat setempat.

“Pendekatan dengan warga menjadi bagian penting agar seluruh kegiatan berjalan lancar. Kami ingin masyarakat merasa menjadi bagian dari ekspedisi ini,” ujarnya.

Pada 5 Juli 2026, suasana base camp semakin ramai dengan kedatangan tim talent, tim pendukung, dan para alumni Elpala. Seluruh peserta bergotong royong menyiapkan perlengkapan yang akan digunakan di hutan maupun di base camp. Sebelum perjalanan dimulai, seluruh tim mengikuti doa bersama yang dipimpin sesepuh Desa Cimelati sebagai bentuk penghormatan kepada alam sekaligus memohon keselamatan selama ekspedisi.

Saat tim utama mulai memasuki kawasan Gunung Salak, aktivitas tim base camp justru semakin padat. Mereka menyiapkan peta perjalanan, radio komunikasi, mencatat perkembangan tim di lapangan, serta memastikan seluruh informasi terdokumentasi hingga aktivitas berakhir setiap malam.

Rutinitas tersebut berlanjut pada 6 dan 7 Juli. Di tengah kesibukan tim di hutan, tim logistik terus mengatur pengiriman kebutuhan tambahan bagi peserta yang masih berada di jalur pendakian. Ketika tim kembali ke base camp, malam diisi dengan evaluasi, makan bersama, dan obrolan yang mempererat persaudaraan antargenerasi Elpala.

Pada 8 Juli, seluruh tim berpindah ke base camp berikutnya di kawasan Saka Alam, Leuwi Lalay. Perpindahan ini menjadi awal memasuki etape pengarungan sungai yang membutuhkan koordinasi lebih intensif antara tim lapangan dan tim pendukung.

Sehari kemudian, 9 Juli, pengarungan Sungai Cicatih dimulai. Sejak pukul 08.00 hingga 16.00 WIB, peserta menjalani latihan dan pengarungan dengan pendampingan tim Wanadri. Sementara itu, tim base camp tetap siaga memantau perkembangan melalui radio komunikasi dan memastikan seluruh kebutuhan peserta terpenuhi.

Tantangan terbesar datang pada 10 Juli saat tim melakukan pengarungan sungai sejauh hampir 30 kilometer. Selama sekitar delapan jam mereka berada di atas perahu karet mengikuti arus Sungai Cicatih. Di sisi lain, tim pendukung lebih dahulu menyiapkan lokasi singgah berikutnya, logistik, serta makanan hangat untuk menyambut peserta yang tiba dalam kondisi lelah.

“Rasa lelah seolah terbayar ketika melihat seluruh tim tiba dengan selamat. Malam itu kami menikmati hidangan laut yang disiapkan tim logistik. Sederhana, tetapi menjadi momen kebersamaan yang tidak akan terlupakan,” kenang Raihana.

Ekspedisi ditutup pada 11 Juli 2026. Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai, peserta berkumpul untuk beristirahat sebelum kembali ke rumah masing-masing. Tidak ada pesta ataupun seremoni mewah, hanya pelukan, tawa, dan cerita yang akan dikenang sepanjang hidup.

Bagi Raihana, seluruh tim pulang bukan hanya membawa dokumentasi dan pengalaman menjelajah alam, tetapi juga pelajaran tentang kepercayaan, kerja sama, pengorbanan, dan persaudaraan.

“Di hari terakhir kami tidak pulang dengan tangan kosong. Kami pulang membawa sukacita yang kami ciptakan bersama dalam setiap langkah perjalanan. Di balik setiap keberhasilan ekspedisi, selalu ada tim yang bekerja tanpa ingin dikenal. Dan justru di sanalah makna persaudaraan itu benar-benar terasa,” tuturnya.

Kisah tim pendukung Ekspedisi Cicatih Elpala menjadi pengingat bahwa sebuah ekspedisi tidak hanya bergantung pada mereka yang berada di garis depan, tetapi juga pada orang-orang yang bekerja di balik layar. Meski jarang terlihat, peran mereka menjadi bagian penting dalam keseluruhan perjalanan ekspedisi.

Editor: HL-News
Share This Article
Jurnalis
Follow:
Lebih suka bekerja di balik layar, tapi pastikan selalu update dengan apa yang terjadi di luar sana.
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!