Setelah Ramadan, Kita Melangkah Ke Mana?

Sudadi
By
Sudadi
Sudadi, yang akrab disapa Dadik, adalah wartawan senior, veteran Pasukan Perdamaian PBB Kontingen Garuda VIII/UNEF yang bertugas di Sinai, Timur Tengah, pada 1978–1979, serta veteran perdamaian....
2 Min Read
Oleh: Sudadi

HEADLINNEWS.ID – Setelah sebulan kita berjalan bersama Ramadan, rasanya seperti baru saja melewati sebuah perjalanan panjang. Ada letih, ada haru, ada juga diam-diam rasa kehilangan ketika semuanya usai.

Lalu… ke mana lagi langkah ini akan diarahkan?

Barangkali tidak perlu buru-buru mencari jawaban besar.

Cukup membawa pulang apa yang sempat kita genggam selama Ramadan—sedikit kesabaran, sedikit ketenangan, dan mungkin sepotong kebiasaan baik yang terasa ringan dijalankan.

Selama berpuasa, tanpa banyak kita sadari, kita sedang belajar banyak hal.

Belajar menahan diri, bukan hanya dari lapar dan dahaga, tapi juga dari kata-kata yang berlebihan, dari emosi yang mudah tersulut.

Ada juga pelan-pelan tumbuh rasa peka—pada mereka yang hidup dalam kekurangan, pada waktu yang terasa lebih berharga, pada hati yang kadang baru terasa tenang saat kita mau diam sejenak.

Hari-hari setelahnya akan berjalan seperti biasa. Tidak lagi seramai suasana Ramadan. Justru di situlah terasa bedanya… apakah yang kemarin hanya singgah, atau benar-benar tinggal.

Kalau pun belum banyak yang berubah, tidak apa-apa. Perjalanan seperti ini memang tidak selalu tampak hasilnya seketika. Kadang ia hanya berjejak pelan, hampir tak terasa.

Mungkin, sesekali kita bisa kembali mencoba—menahan diri sedikit lebih lama, berbuat baik tanpa banyak alasan, atau sekadar mengingat suasana hening di waktu sahur yang dulu kita jalani.

Dan ketika langkah terasa mulai menjauh, barangkali bulan Syawal datang seperti mengingatkan… bahwa perjalanan ini belum benar-benar usai.

Ramadan itu bukan garis akhir, mungkin lebih terasa seperti sebuah awal.

Seperti nasihat seorang pelatih senior kepada prajuritnya – jangan berhenti berlatih hanya karena medan sudah terasa sunyi.

Justru di situlah ketahanan sejati diuji.

Sudadi, yang akrab disapa Dadik, adalah wartawan senior, veteran Pasukan Perdamaian PBB Kontingen Garuda VIII/UNEF yang bertugas di Sinai, Timur Tengah, pada 1978–1979, serta veteran perdamaian. Saat ini, ia juga menjabat sebagai Pengurus Pusat LVRI dan Pemimpin Perusahaan Headlinenews.id.

TAGGED:
Share This Article
Follow:
Sudadi, yang akrab disapa Dadik, adalah wartawan senior, veteran Pasukan Perdamaian PBB Kontingen Garuda VIII/UNEF yang bertugas di Sinai, Timur Tengah, pada 1978–1979, serta veteran perdamaian. Saat ini, ia juga menjabat sebagai Pengurus Pusat LVRI dan Pemimpin Perusahaan Headlinenews.id.
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *