Produksi Kopi Turun, Harga Diharapkan Topang Pendapatan Petani

Arafandy
By
3 Min Read

HEADLINNEWS.IDTemanggung, Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKPPP) Kabupaten Temanggung memperkirakan produksi kopi Robusta pada musim panen 2026 turun sekitar 40 hingga 60 persen. Penurunan dipicu kemarau basah pada 2025 yang menyebabkan banyak bunga kopi rontok saat fase pembungaan. Pemerintah berharap, tren kenaikan harga kopi pada puncak panen Juli-Agustus mampu menjaga pendapatan petani di tengah menurunnya hasil produksi.

Kepala Bidang Hortikultura dan Perkebunan DKPPP Kabupaten Temanggung, Sumarno, mengatakan curah hujan yang masih tinggi pada masa pembungaan mengganggu proses pembentukan buah. Selain menyebabkan bunga berguguran, kelembapan yang tinggi juga meningkatkan serangan jamur pada tanaman kopi.

“Memang tahun ini terjadi penurunan produksi sekitar 40 sampai 60 persen akibat iklim ekstrem tahun lalu,” katanya, Kamis (9/7/2026).

Menurut Sumarno, harga kopi yang membaik menjadi harapan untuk mengurangi dampak penurunan produksi. Puncak panen yang berlangsung hingga Agustus diperkirakan masih membuka peluang kenaikan harga di tingkat petani.

“Semoga harga kopi meningkat, sehingga biaya budidaya kopi dapat tertutupi,” ujarnya.

Kondisi tersebut dirasakan petani di sejumlah sentra kopi Temanggung. Wawoh (50), petani kopi di Desa Plosogaden, Kecamatan Candiroto, mengatakan hasil panen tahun ini jauh lebih sedikit dibandingkan musim normal, karena banyak bunga kopi rontok akibat hujan yang turun saat musim kemarau.

“Buahnya memang tidak banyak. Saat bunga keluar masih sering hujan, sehingga banyak yang rontok,” ujarnya, Kamis (9/7/2026).

Wawoh yang mengelola kebun kopi Robusta seluas sekitar satu hektare menyebut harga kopi kering campuran saat ini berkisar Rp 58.000 per kilogram, sedangkan kopi basah Rp 15.500 per kilogram. Harga tersebut relatif sama dengan musim panen tahun lalu, namun masih di bawah harga tertinggi yang pernah mencapai Rp 100.000 per kilogram.

Sementara itu, Setyo, petani kopi asal Kecamatan Kledung, memilih meningkatkan nilai tambah hasil panennya dengan mengolah biji kopi menjadi kopi bubuk dan kopi siap seduh. Cara tersebut dinilai lebih menguntungkan dibanding menjual biji kopi kepada pengepul.

“Saya jual kopi siap seduh. Saya juga jual kopi di minuman kopi. Alhamdulillah hasilnya lebih baik,” katanya. Menurutnya, kopi memiliki daya simpan yang lama, sehingga tidak harus langsung dijual setelah panen. (Aiz;Ekp)

Editor: HL-News
TAGGED:
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!