HEADLINNEWS.ID – Di balik rimbunnya kawasan Dukuh Barang, Desa Banyumeneng, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, terdapat Kompleks Makam KRT Wiroguno dan R.A. Supartinah yang menyimpan kisah pengabdian dan sejarah penyebaran Islam di kawasan Girikusumo.
Situs bersejarah tersebut menjadi pengingat atas kesetiaan KRT Wiroguno dan istrinya, R.A. Supartinah, yang dikenal sebagai abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta. Keduanya dipercaya mengabdikan diri dengan mendampingi Nyai Pandan Arum, ibu dari Mbah Ibrahim Kusuma yang memiliki garis keturunan (nasab) Sunan Tembayat.
Pengelola makam, Gus Nadir, menuturkan bahwa Nyai Pandan Arum mendampingi Mbah Ibrahim Kusuma saat menjalani laku spiritual di puncak Gunung Giri Kusumo. Dalam perjalanan pengabdian tersebut, KRT Wiroguno beserta R.A. Supartinah tetap setia mendampingi hingga akhir hayat mereka.
“Beliau berdua merupakan abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta yang terus mendampingi Nyai Pandan Arum hingga wafat dan akhirnya dimakamkan di kawasan ini,” jelas Gus Nadir.
Menurutnya, keberadaan makam tidak hanya menjadi penanda sejarah, tetapi juga menjadi bagian dari jejak perkembangan dakwah Islam di wilayah Girikusumo yang hingga kini masih dikunjungi masyarakat untuk berziarah.

Terpisah, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Demak, Endah Cahya Rini, mengatakan Kompleks Makam KRT Wiroguno dan R.A. Supartinah merupakan salah satu aset sejarah yang memperkaya destinasi wisata religi di Kabupaten Demak.
Ia menuturkan, potensi wisata religi di Demak tidak hanya terpusat di kawasan Masjid Agung Demak dan Makam Sunan Kalijaga, tetapi juga tersebar di sejumlah wilayah yang memiliki nilai historis dan spiritual tinggi.
“Melalui upaya pelestarian serta promosi yang berkelanjutan, kami berharap situs-situs bersejarah seperti Makam KRT Wiroguno dan R.A. Supartinah semakin dikenal masyarakat sebagai destinasi wisata religi sekaligus sarana edukasi sejarah,” ujar Endah.
Keberadaan kompleks makam tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi Kabupaten Demak sebagai salah satu tujuan wisata religi di Jawa Tengah, sekaligus mengajak masyarakat mengenal lebih dekat nilai-nilai pengabdian, sejarah, dan perjalanan dakwah Islam yang telah diwariskan lintas generasi.

