HEADLINNEWS.ID β PURWOREJO β Resepsi pernikahan tak selalu harus digelar di gedung atau halaman rumah. Sepasang pengantin asal Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo, menghadirkan konsep berbeda dengan menggelar resepsi pernikahan di tengah suasana alam terbuka kawasan Wisata Curug Gunung Putri, Desa Cepedak, Minggu (11/10/2026).
Pasangan tersebut adalah Siti Fani Hidayati, warga asli Desa Cepedak, dan M. Kaffabih, warga Desa Brunorejo, Kecamatan Bruno. Keduanya memilih destinasi wisata alam sebagai tempat merayakan hari istimewa mereka, sekaligus menghadirkan pengalaman yang berbeda bagi keluarga dan tamu undangan.
Bukan sekadar mencari suasana yang berbeda, pilihan tersebut juga membawa pesan tersendiri. Di tengah keindahan alam Curug Gunung Putri, momen pernikahan mereka ikut memperkenalkan potensi wisata lokal yang selama ini menyimpan daya tarik tersendiri.
Siti Fani Hidayati mengungkapkan, dirinya sengaja memilih konsep pernikahan outdoor karena ingin menciptakan suasana yang lebih dekat dengan alam dan berbeda dari resepsi pada umumnya.
βSaya ingin suasana yang berbeda, bisa membaur dengan alam. Kebetulan acara pernikahan ini juga belum memasuki musim penghujan, sehingga kami bisa menggelarnya di tempat terbuka. Ini menjadi kenangan tersendiri bagi kami,β ujarnya.
Ia berharap, resepsi yang digelar di Curug Gunung Putri tidak hanya menjadi kenangan indah bagi dirinya dan pasangan, tetapi juga membuat semakin banyak masyarakat mengenal keindahan wisata alam di Desa Cepedak.
Dari Tempat Resepsi Menjadi Momentum Kebangkitan Wisata
Di balik suasana bahagia kedua mempelai, kegiatan ini juga menjadi angin segar bagi pengelolaan Wisata Curug Gunung Putri yang berupaya kembali menarik minat pengunjung.
Pengelola Wisata Curug Gunung Putri Cepedak, M. Sodiqul Maβarif, mengatakan kawasan wisata tersebut pernah mengalami masa ramai dengan jumlah kunjungan mencapai lebih dari 10 ribu orang dalam sebulan. Namun, pandemi Covid-19 membawa dampak terhadap kunjungan wisatawan hingga aktivitas wisata di lokasi tersebut sempat vakum.
βDulu wisata ini pernah ramai, dengan jumlah pengunjung lebih dari 10 ribu orang dalam satu bulan. Namun, setelah pandemi Covid-19, jumlah pengunjung sejumlah tempat wisata di Purworejo mengalami penurunan drastis. Curug Gunung Putri juga ikut terdampak dan sejak saat itu aktivitas wisata menjadi vakum dengan jumlah pengunjung yang relatif sedikit,β ungkapnya.
Untuk menghidupkan kembali destinasi tersebut, pengelola kini melakukan penataan ulang kepengurusan dengan melibatkan orang-orang yang siap dan memiliki kemauan untuk bersama-sama memajukan wisata yang telah dibangun sejak lama.
Menurut Sodiqul, dibutuhkan semangat dan kerja sama berbagai pihak agar Curug Gunung Putri kembali memiliki daya tarik bagi wisatawan. Pemanfaatan kawasan untuk kegiatan masyarakat menjadi salah satu langkah yang mulai dilakukan.
Sebelum digunakan sebagai lokasi resepsi pernikahan, kawasan tersebut juga telah dimanfaatkan untuk kegiatan kepramukaan dan camping komunitas pada bulan sebelumnya.
Rangkaian kegiatan itu diharapkan menjadi awal tumbuhnya kembali aktivitas wisata, sekaligus memperluas pemanfaatan Curug Gunung Putri sebagai ruang kegiatan positif bagi masyarakat.
βSaya mengucapkan terima kasih kepada Mbak Siti dan Mas Kaffa yang telah memilih Curug Gunung Putri sebagai lokasi resepsi pernikahan. Semoga kegiatan ini bisa menjadi media promosi sekaligus ikut melestarikan wisata yang ada di Bruno agar semakin dikenal masyarakat,β tambahnya.
Hari Bahagia yang Membawa Harapan bagi Wisata Lokal
Pilihan Siti dan Kaffabih menjadi contoh bagaimana sebuah momen pribadi dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar. Resepsi pernikahan yang biasanya identik dengan gedung atau tenda di lingkungan permukiman, kali ini turut memberikan ruang promosi bagi destinasi wisata lokal.
Curug Gunung Putri pun diharapkan tidak hanya dikenal karena keindahan alamnya, tetapi juga dapat menjadi alternatif lokasi untuk berbagai kegiatan, mulai dari pertemuan komunitas, kegiatan kepramukaan, camping, hingga acara keluarga.
Ke depan, kolaborasi antara pengelola, masyarakat, dan pengunjung menjadi bagian penting dalam membangun kembali daya tarik wisata tersebut. Selain promosi, penataan kawasan dan kepedulian terhadap kelestarian alam juga diperlukan agar potensi yang dimiliki dapat terus berkembang.
Bagi Siti Fani Hidayati dan M. Kaffabih, Curug Gunung Putri menjadi tempat untuk mengukir kenangan pada hari pernikahan mereka. Sementara bagi pengelola dan masyarakat setempat, momen itu membawa harapan baru agar destinasi wisata di Desa Cepedak kembali dikenal dan dikunjungi

