HEADLINNEWS.ID – Temanggung, Area Makam Simbah Wali Kabun di Dusun Kabunan, Desa Bandunggede, Kecamatan Kedu, menjadi saksi dimulainya proyek pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) dengan total anggaran mencapai Rp3 miliar. Selain di Desa Bandunggede, anggaran program berasal dari Dana Alokasi Khusus (DAK) APBN 2026 ini juga menyasar Desa Gedongsari di Kecamatan Jumo dan Desa Tuksari di Kecamatan Kledung.
“Alhamdulillah, Pemkab Temanggung diberikan kepercayaan oleh pemerintah pusat melalui alokasi DAK ini. Program SPAM ini merupakan salah satu upaya kita bersama untuk penyediaan air bersih dan layak bagi kebutuhan rumah tangga warga tiga desa tersebut,” ujar Bupati Agus Setyawan, usai melakukan peletakan batu pertama (groundbreaking) di area pelataran Makam Simbah Wali Kabun, Kamis (9/7/2026).
Sebelum prosesi peletakan batu pertama, Bupati yang akrab disapa Agus Gondrong ini didampingi Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Temanggung, Arifin Arsyad, menyempatkan diri untuk meninjau Sendang Berkah Tuk Sewu Sido Mulyo. Mata air yang menjadi sumber utama aliran air bersih ini berada di bawah pereng (perbukitan) makam dengan jarak sekitar 200 meter dari lokasi acara. Di area pelataran makam ini nantinya akan dibangun sebuah bak penampungan air berukuran besar (reservoir) sebelum akhirnya dialirkan langsung melalui pipa-pipa ke rumah-rumah warga.
“Karena anggarannya cukup besar, mari kita awasi bersama-sama dengan baik agar tidak ada masalah di kemudian hari. Dikerjakan sebaik-baiknya, tepat mutu dan tepat waktu. Harapannya, sekali dibangun, fasilitas ini bisa terus bermanfaat sampai puluhan tahun ke depan,” tandas Bupati.
Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Temanggung, Hendi Nur Hidayat, menjelaskan bahwa proyek di tiga desa ini ditargetkan mampu melayani 769 sambungan rumah dan dijadwalkan rampung pada 16 Oktober 2026.
Proyek ini mencakup pembangunan dari hulu ke hilir. Mulai dari pembuatan bangunan khusus untuk menangkap mata air, pemasangan pompa sedot, pembuatan bak penampungan air yang besar, hingga penyambungan pipa-pipa distribusi sampai meteran air di depan rumah warga.
“Pasca-konstruksi, Kelompok Pengelola (KP) SPAM di masing-masing desa akan kami undang untuk diberikan pelatihan. Nanti diajari cara menghitung iuran warga secara gotong royong agar bisa menutup biaya listrik pompa, serta perawatan, jika ada pipa yang bocor. Prinsip utamanya adalah menjaga agar aliran air bersih ini terus berkelanjutan untuk warga, bukan untuk mencari keuntungan atau bisnis,” pungkas Hendi. (Adt;Istw;Ekp)

