HEADLINNEWS.ID – Jakarta, Pembakaran pesawat milik Associated Mission Aviation (AMA) dan pembunuhan pilot berkewarganegaraan Amerika Serikat di Yahukimo, Papua Pegunungan, menuai kecaman dari berbagai kalangan. Peristiwa itu dinilai bukan hanya sebagai tindak pidana, tetapi juga serangan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan pelayanan Gereja kepada masyarakat pedalaman Papua.
Wakil Ketua Umum PP Gerakan Kristiani Indonesia Raya (GEKIRA) Bidang Hukum dan Advokasi yang juga Ketua DPP Partai Gerindra Bidang Agama Katolik, Dr. Haposan P. Batubara, S.H., M.H., mengecam keras tindakan brutal Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang membakar pesawat AMA dan membunuh pilot misionaris yang sedang menjalankan tugas kemanusiaan.
Menurut Haposan, aksi tersebut tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun karena korbannya bukan pihak yang terlibat konflik, melainkan seorang pilot yang mengabdikan diri untuk melayani masyarakat di daerah terpencil Papua.
“Ini adalah tindakan yang sangat biadab dan tidak berperikemanusiaan. Membunuh seorang pilot yang datang membawa pelayanan bagi masyarakat pedalaman merupakan pelanggaran serius terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Tidak ada agama, budaya, maupun nilai luhur yang membenarkan pembunuhan terhadap orang yang datang untuk menolong sesama,” tegas Haposan, Sabtu (4/7/2026).
Ia menegaskan, selama puluhan tahun AMA menjadi mitra pelayanan Gereja Katolik di Tanah Papua dengan menghubungkan daerah-daerah yang sulit dijangkau melalui transportasi udara. Pesawat-pesawat AMA mengangkut tenaga pastoral, guru, tenaga kesehatan, logistik, serta kebutuhan masyarakat tanpa membedakan suku, agama, maupun latar belakang.
“Yang diserang bukan hanya pesawat. Yang diserang adalah misi kemanusiaan, pelayanan kasih, dan harapan masyarakat pedalaman yang selama ini bergantung pada penerbangan AMA,” ujarnya.
Haposan mengingatkan bahwa Gereja hadir di Papua bukan untuk membawa konflik, melainkan menghadirkan kasih, pendidikan, kesehatan, dan pelayanan bagi masyarakat. Karena itu, tindakan kekerasan terhadap fasilitas dan pekerja kemanusiaan merupakan bentuk penghinaan terhadap martabat manusia.
Ia juga mengajak seluruh elemen bangsa agar tidak membiarkan kekerasan terus menjadi wajah Papua.
“Papua membutuhkan perdamaian, rekonsiliasi, dan penghormatan terhadap kehidupan manusia. Kekerasan hanya akan meninggalkan luka yang semakin dalam dan memperpanjang penderitaan rakyat Papua,” katanya.
Haposan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga almarhum Capt. Nicholas Francis Goselin serta keluarga besar AMA dan Gereja Katolik di Tanah Papua.
Ia berharap aparat penegak hukum mengusut tuntas pelaku pembakaran pesawat dan pembunuhan pilot tersebut sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Ia juga berharap aparat memastikan keamanan bagi seluruh tenaga kemanusiaan yang mengabdikan diri di wilayah pedalaman.
“Mari kita doakan agar almarhum memperoleh kedamaian abadi di sisi Tuhan. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan penghiburan. Kita juga berdoa agar Tanah Papua menjadi tanah damai, tempat kasih mengalahkan kebencian dan kemanusiaan mengalahkan kekerasan,” pungkas Haposan.
Peristiwa pembakaran pesawat Associated Mission Aviation (AMA) dan pembunuhan pilot misionaris tidak hanya diposisikan sebagai tindak pidana, tetapi juga dipandang sebagai serangan terhadap aktivitas kemanusiaan yang selama ini melayani masyarakat pedalaman Papua. Penilaian tersebut tercermin dalam pernyataan Haposan P. Batubara yang menekankan bahwa korban bukan merupakan pihak yang terlibat konflik.
Dalam keterangannya, Haposan juga menyoroti peran AMA sebagai mitra pelayanan Gereja Katolik di Tanah Papua yang menghubungkan wilayah-wilayah terpencil melalui transportasi udara. Dengan demikian, serangan terhadap pesawat dan pilot tersebut, menurutnya, berpotensi memengaruhi keberlangsungan pelayanan kemanusiaan yang selama ini dijalankan.
Selain mengecam tindakan pelaku, Haposan mendorong aparat penegak hukum mengusut tuntas kasus tersebut sesuai ketentuan hukum yang berlaku serta memastikan keamanan bagi para tenaga kemanusiaan di wilayah pedalaman. Ia juga menekankan pentingnya perdamaian, rekonsiliasi, dan penghormatan terhadap kehidupan manusia sebagai respons atas peristiwa tersebut.

