HEADLINNEWS.ID – Harga emas dunia (XAU/USD) masih bergerak dalam tekanan pada awal pekan perdagangan. Pergerakan logam mulia dipengaruhi tarik-menarik antara meningkatnya risiko geopolitik Timur Tengah dan ketidakpastian arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat.
Emas diperdagangkan di sekitar level 4.198 pada perdagangan hari ini. Investor masih menahan diri melakukan pembelian agresif karena dolar Amerika Serikat dan imbal hasil obligasi pemerintah AS tetap berada di level tinggi.
Berdasarkan analisis Lukman Hqeem bersama Komunitas Jago FX, tekanan terhadap emas masih dipengaruhi oleh kekuatan dolar AS serta sikap pasar yang menunggu kejelasan arah kebijakan moneter Federal Reserve System.
“Pasar emas masih mencari arah. Risiko geopolitik memang memberikan dukungan, tetapi tekanan dari dolar dan ekspektasi suku bunga The Fed masih menjadi faktor utama yang membatasi kenaikan harga emas,” demikian analisis Lukman Hqeem dan Komunitas Jago FX.
Ketegangan geopolitik kembali menjadi faktor pendukung bagi aset safe haven. Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait kemungkinan tindakan lanjutan apabila serangan terhadap Israel berlanjut serta meningkatnya perhatian terhadap situasi Iran dan Selat Hormuz kembali meningkatkan premi risiko pasar.
Namun, dampak geopolitik terhadap emas masih terbatas. Investor tetap mempertimbangkan faktor utama lain, yakni arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Menurut analisis Lukman Hqeem dan Komunitas Jago FX, konflik geopolitik masih menjadi katalis positif bagi emas, tetapi pasar saat ini lebih responsif terhadap data ekonomi AS dan perubahan ekspektasi suku bunga.
Tekanan terbesar terhadap emas berasal dari ekspektasi kebijakan The Fed yang masih cenderung hawkish. Pasar memperhitungkan kemungkinan suku bunga tetap tinggi lebih lama apabila tekanan inflasi Amerika Serikat belum sepenuhnya mereda.
Kenaikan suku bunga membuat emas kehilangan daya tarik karena tidak memberikan imbal hasil. Investor cenderung memilih instrumen berbasis dolar ketika yield obligasi meningkat.
Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun masih berada di sekitar 4,46%, sementara indeks dolar AS bertahan di kisaran 100,8.
Lukman Hqeem dan Komunitas Jago FX menilai selama dolar AS masih kuat dan yield Treasury belum menunjukkan penurunan signifikan, ruang penguatan emas masih terbatas.
Di sisi lain, pasar saham menunjukkan pemulihan sentimen risiko. Indeks S&P 500 tercatat menguat 2,11% dalam lima hari terakhir, sementara Nasdaq naik 3,39%.
Penguatan pasar saham menunjukkan sebagian investor mulai kembali mengalokasikan dana ke aset berisiko setelah tekanan pasar sebelumnya.
Di pasar komoditas, harga minyak turun hampir 14% dalam lima hari terakhir. Penurunan tersebut membantu meredakan sebagian kekhawatiran terhadap inflasi energi, meski risiko geopolitik Timur Tengah masih dapat memicu perubahan harga secara cepat.
Secara teknikal, emas masih berada dalam fase bearish-neutral. Pergerakan naik pada awal sesi Asia belum mengubah struktur tren yang masih menghadapi tekanan jual.
Area 4.190–4.210 menjadi resistance utama. Apabila harga mampu menembus 4.210, peluang kenaikan menuju 4.220, 4.230, hingga 4.250 terbuka.
Sebaliknya, apabila emas gagal mempertahankan level 4.175, tekanan jual berpotensi membawa harga turun menuju 4.160, 4.145, hingga 4.120.
Strategi perdagangan jangka pendek:
Sell area: 4.200–4.195
Target profit: 4.190, 4.180, 4.160
Stop loss: 4.210
Skenario alternatif:
Buy area: 4.210–4.215
Target profit: 4.220, 4.230, 4.250
Batas waktu skenario perdagangan: 22 Juni 2026, pukul 14.00 WIB.
Pergerakan emas saat ini mencerminkan pertarungan antara dua kekuatan utama pasar. Risiko geopolitik meningkatkan permintaan aset aman, sementara kebijakan moneter ketat The Fed menahan laju kenaikan harga.
Lukman Hqeem dan Komunitas Jago FX memperkirakan pelaku pasar masih akan mencermati data ekonomi Amerika Serikat berikutnya sebagai penentu arah emas.
“Jika tekanan inflasi AS kembali meningkat dan The Fed mempertahankan sikap ketat, emas berpotensi tetap mendapat tekanan. Namun jika data ekonomi melemah dan ekspektasi pemangkasan suku bunga kembali muncul, emas dapat kembali mendapatkan momentum penguatan,” kata Lukman Hqeem dalam analisisnya.
Dalam jangka menengah, pembelian emas oleh bank sentral global tetap menjadi salah satu faktor pendukung. Pergerakan berikutnya akan bergantung pada perkembangan konflik Timur Tengah, arah dolar AS, serta perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Amerika Serikat.

