Polemik Pariwisata Bali, Billy Syahputra dan Ria Ricis Tanggapi AWK

Michael Ivan
By
Michael Ivan
Jurnalis
Lebih suka bekerja di balik layar, tapi pastikan selalu update dengan apa yang terjadi di luar sana.
- Jurnalis
3 Min Read

HEADLINNEWS.ID – Polemik pariwisata Bali melebar setelah Billy Syahputra dan Ria Ricis menanggapi pernyataan Senator Arya Wedakarna atau AWK soal kritik wisatawan di media sosial. Perselisihan itu berawal dari keluhan kedua figur publik mengenai pengalaman mereka saat berwisata di Bali.

Ria Ricis sebelumnya mengunggah pengalaman membatalkan sebuah aktivitas wisata setelah menilai oknum staf layanan kurang ramah kepada wisatawan domestik dibandingkan wisatawan mancanegara. Sementara Billy mengunggah video perselisihan dengan penjaga fasilitas toilet di kawasan Pantai Dreamland, Kuta Selatan, terkait persoalan biaya masuk bagi pendamping anaknya.

Pemilik usaha Dreamland Warung, Nyoman Wardana, kemudian memberikan klarifikasi. Berdasarkan pemeriksaan internal dan rekaman CCTV yang disebut pihak manajemen, tidak ditemukan tindakan fisik, sementara tarif Rp10.000 disebut berlaku per orang untuk fasilitas mandi dan persoalan tersebut telah diselesaikan secara kekeluargaan di lokasi melalui permohonan maaf bersama.

AWK merespons ramainya sorotan digital itu dengan meminta wisatawan, khususnya figur publik, mengutamakan komunikasi langsung dengan pihak manajemen sebelum memviralkan persoalan operasional skala kecil. Ia menilai ulasan negatif yang menyebar luas dapat berdampak pada mata pencaharian pekerja lokal dan memicu pemutusan hubungan kerja.

Di sisi lain, AWK juga menyatakan tidak boleh ada diskriminasi pelayanan antara wisatawan domestik dan mancanegara. Ia menyarankan warga Bali tidak berlebihan dalam menyambut tokoh publik yang dinilai kerap memberikan citra negatif terhadap Bali.

Pernyataan itu kemudian ditanggapi Billy melalui video klarifikasi lanjutan. Billy meminta pejabat publik tidak menggiring opini seolah kritik wisatawan ditujukan untuk merusak rezeki pekerja lokal atau mencari keributan, serta menegaskan dirinya datang ke Bali untuk berlibur menggunakan uang hasil kerjanya.

Billy juga menyatakan sebagai konsumen dirinya berhak menyampaikan keluhan untuk perbaikan pelayanan. Ia meminta pihak pengelola membuka rekaman CCTV secara utuh tanpa potongan agar rangkaian kejadian dapat terlihat secara transparan.

Ria Ricis turut menegaskan bahwa kritik yang disampaikannya didasarkan pada pengalaman yang dirasakan di lapangan. Ia menyebut kritik tersebut sebagai evaluasi agar wisatawan domestik dan mancanegara memperoleh perlakuan yang setara tanpa pembedaan sikap dari oknum pekerja hospitality.

Senator Ni Luh Djelantik kemudian mengkritik pendekatan komunikasi AWK. Menurutnya, pejabat publik seharusnya berperan sebagai mediator netral dengan fokus mengevaluasi standar operasional prosedur pariwisata, bukan membela kelompok secara mutlak atau membawa persoalan oknum ke ranah sentimen regional.

Ni Luh juga menyatakan kesalahan dari oknum pelaku usaha maupun oknum wisatawan perlu dinilai secara profesional tanpa pembelaan sepihak yang dapat memperkeruh citra pariwisata Bali.

Data sumber memperlihatkan polemik ini berkembang dari keluhan mengenai pelayanan wisata menjadi perdebatan mengenai cara menyampaikan kritik di ruang digital. Dua isu utama yang muncul adalah tuntutan perlakuan setara bagi wisatawan domestik dan mancanegara serta perbedaan pandangan antara komunikasi langsung dan penyampaian keluhan melalui media sosial.

Editor: Michael Ivan
Share This Article
Jurnalis
Follow:
Lebih suka bekerja di balik layar, tapi pastikan selalu update dengan apa yang terjadi di luar sana.
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!