Suasana Khidmat Jamasan Alit di Museum Salatiga, Pelestarian Pusaka Sekaligus Refleksi Diri

Jamasan bukan hanya bertujuan membersihkan dan merawat benda pusaka agar tetap lestari, tetapi juga menjadi pengingat bagi kita untuk membersihkan hati dan diri dari hal-hal yang kurang baik

Witarto
By
Witarto
2 Min Read
Oleh: Witarto

HEADLINNEWS.IDSALATIGA – Suasana penuh penghormatan menyelimuti ruang pamer Museum Salatiga, Kamis (2/7/2026), saat Komunitas Salatiga Keris Ageman Lestari (SAKRAL) melaksanakan tradisi Jamasan Alit. Prosesi ini bukan sekadar merawat benda pusaka, melainkan momen sakral untuk menjaga warisan leluhur sekaligus membersihkan hati dari hal yang kurang baik.

Dalam upacara yang berlangsung dengan nuansa budaya Jawa yang kental itu, sejumlah pusaka bernilai sejarah dijamaskan, antara lain keris, tombak, dan benda pusaka lainnya. Seluruh rangkaian tata cara dijalankan dengan ketelitian dan penghormatan tinggi, disaksikan langsung unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah, kepala perangkat daerah, sesepuh, budayawan, camat, lurah, serta warga yang peduli budaya.

Ketua Panitia Pelaksana, Krisna Pradipta, menegaskan makna mendalam di balik tradisi ini. “Jamasan bukan hanya bertujuan membersihkan dan merawat benda pusaka agar tetap lestari, tetapi juga menjadi pengingat bagi kita untuk membersihkan hati dan diri dari hal-hal yang kurang baik.

Melalui tradisi ini, kita diajak menjaga nilai-nilai kebajikan, menghormati warisan leluhur, dan terus memperbaiki diri dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya di sela-sela prosesi.

Pemerintah Kota Salatiga memberikan apresiasi penuh atas terselenggaranya kegiatan ini. Mewakili Wali Kota, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Muh. Nasiruddin, menyebut jamasan sebagai kekayaan budaya yang wajib dijaga keberlangsungannya.

“Atas nama pemerintah, kami memberikan apresiasi atas terselenggaranya Jamasan Alit Pusaka ini. Tradisi seperti ini harus terus dirawat dan, kalau bisa, dilaksanakan setiap tahun. Selain sebagai upaya nguri-uri budaya, kegiatan ini juga menjadi wujud kepedulian kita dalam merawat warisan budaya, sejarah, dan jati diri masyarakat Salatiga agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang,” kata Nasiruddin.

Ia menambahkan, pelestarian budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab komunitas, melainkan butuh dukungan pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat agar nilai luhur leluhur tetap bertahan di tengah arus perubahan zaman.

Melalui kegiatan ini, Salatiga kembali menegaskan komitmennya menjaga warisan budaya sebagai identitas daerah. Jamasan Alit diharapkan tidak hanya menjadi seremonial belaka, tetapi mampu menumbuhkan kecintaan—terutama di kalangan generasi muda—terhadap akar budaya yang menjadi jati diri bangsa.

 

 

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *