Studi: Kulit Babi Ternak Bisa Pulihkan Kebutaan akibat Kerusakan Kornea

Christopher Starr adalah dokter mata di Weill Cornell Medicine di New York City dan juru bicara klinis untuk American Academy of Ophthalmology. Dia meninjau temuan dan mengatakan hasil awal ini "cukup menjanjikan."

Ria Diana
By
Ria Diana
Penyuka sushi dan semua tentang Jepang.
4 Min Read

HEADLINNEWS.ID – Sebuah terobosan di bidang kedokteran mata membuka harapan baru bagi jutaan penderita kebutaan akibat kerusakan kornea. Para ilmuwan berhasil mengembangkan implan kornea berbahan dasar kolagen yang diambil dari kulit babi, dan hasil uji coba awal menunjukkan kemampuan yang menjanjikan dalam memulihkan penglihatan.

Kornea merupakan lapisan bening paling luar pada mata yang berfungsi memfokuskan cahaya. Ketika kornea rusak akibat penyakit atau cedera, seseorang dapat mengalami gangguan penglihatan hingga kebutaan. Selama ini, solusi utama adalah transplantasi kornea dari donor manusia. Namun, jumlah donor sangat terbatas sehingga banyak pasien tidak mendapatkan penanganan yang dibutuhkan.

Dibuat dari Kolagen Kulit Babi

Tim peneliti mengembangkan implan dengan memanfaatkan kolagen murni yang diekstraksi dari kulit babi. Kolagen tersebut kemudian diproses menjadi bahan transparan dan kuat yang mampu meniru struktur kornea manusia.

Menurut peneliti utama, Profesor Neil Lagali dari Universitas Linköping, Swedia, kulit babi dipilih karena merupakan produk sampingan industri pangan yang melimpah, murah, dan selama ini telah digunakan dalam berbagai produk medis yang telah disetujui regulator.

Babi yang digunakan juga bukan hasil rekayasa genetika, melainkan babi sehat yang memang berasal dari industri makanan.

Risiko Penolakan Lebih Rendah

Berbeda dengan transplantasi kornea konvensional yang menggunakan jaringan donor manusia, implan ini tidak mengandung sel hidup sehingga risiko penolakan oleh sistem kekebalan tubuh jauh lebih rendah.

Pada transplantasi biasa, pasien harus menggunakan obat tetes mata imunosupresif hingga satu tahun atau lebih. Sementara pada metode baru ini, obat tetes hanya diperlukan sekitar delapan minggu.

Prosedur operasinya juga lebih sederhana. Dokter hanya membuat sayatan kecil pada kornea pasien untuk memasukkan implan tanpa perlu mengangkat seluruh kornea maupun melakukan jahitan.

Berpotensi Mengobati Keratoconus

Teknologi ini juga dikembangkan untuk menangani keratoconus, penyakit yang menyebabkan kornea menipis secara bertahap hingga kehilangan bentuk normalnya. Kondisi ini dapat mengakibatkan gangguan penglihatan berat bahkan kebutaan jika tidak ditangani.

Penyakit tersebut umumnya mulai muncul sejak masa remaja dan diperkirakan menyerang jutaan orang di berbagai negara, terutama di kawasan Asia dan Timur Tengah.

Hasil Uji Klinis Sangat Menjanjikan

Dalam uji klinis terhadap 20 pasien keratoconus stadium lanjut di India dan Iran, hasilnya melampaui ekspektasi peneliti.

Sebelum menjalani operasi, 14 dari 20 pasien mengalami kebutaan. Dua tahun setelah pemasangan implan, seluruh pasien berhasil keluar dari kondisi buta. Bahkan, tiga pasien memperoleh kembali penglihatan sempurna dengan ketajaman 20/20.

Peneliti juga menemukan bahwa implan tetap stabil setelah dua tahun penggunaan dan diyakini mampu bertahan jauh lebih lama karena jaringan kornea pasien secara bertahap akan membentuk kolagen baru.

Keunggulan lainnya, implan dapat disimpan hingga dua tahun sebelum digunakan, jauh lebih lama dibanding kornea donor manusia yang hanya bertahan sekitar dua minggu.

Masih Tahap Pengembangan

Meski hasil awal sangat menggembirakan, teknologi ini belum tersedia untuk penggunaan umum.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Biotechnology pada 2022 tersebut masih berada pada tahap pengembangan klinis lanjutan. Perusahaan bioteknologi Swedia LinkoCare Life Sciences bersama para peneliti masih menjalankan uji klinis dengan jumlah pasien yang lebih besar untuk memastikan keamanan dan efektivitas jangka panjang.

Hingga tahun 2026, implan kornea berbahan kolagen kulit babi tersebut belum memperoleh izin edar untuk penggunaan komersial secara luas. Apabila hasil uji lanjutan tetap positif, teknologi ini berpotensi menjadi solusi bagi jutaan pasien di seluruh dunia yang selama ini kesulitan mendapatkan

Share This Article
Follow:
Penyuka sushi dan semua tentang Jepang.