HEADLINNEWS.ID – Driver GoCar di Mall of Indonesia Kelapa Gading dilaporkan penumpang meminta uang lebih hanya karena kembalian kurang Rp100. Unggahan akun @achmadsofyan1982 di Threads yang dilihat lebih dari 1.800 kali memicu sorotan terhadap mekanisme sanksi aplikator.
Jakarta menjadi lokasi perbincangan setelah unggahan itu menyebar. Akun @achmadsofyan1982 mengaku sebagai mitra pengemudi yang sedang menjalani order pada 13 Oktober.
Driver tersebut bercerita mengantar penumpang berinisial Mvii yang memesan layanan GoCar di Mall of Indonesia atau MOI Kelapa Gading. Order tercatat dengan kode RB-4392892-xxxx.
Menurut versi pengemudi, penumpang datang dan membuka pintu dengan kencang. Ia sudah menyapa dengan ucapan selamat, namun penumpang berwajah jutek.
Perjalanan tetap berjalan dan diantar sampai tujuan dengan baik. Tidak ada persoalan selama di perjalanan.
Masalah mencuat di akhir perjalanan saat pembayaran tunai. Driver menyebut kembalian kurang Rp100.
Ia mengaku sempat menyampaikan langsung kepada penumpang. Kalimat yang ia sampaikan adalah kak maaf kembaliannya kurang 100 perak.
Penumpang menjawab gpp. Jawaban singkat itu yang membuat driver mengira persoalan selesai.
Setelah itu driver kaget karena mendapat laporan dari penumpang. Laporan tersebut menyebut dirinya meminta uang lebih.
Padahal versi driver, ia tidak pernah meminta uang lebih. Ia hanya memberitahu kekurangan kembalian.
Dalam unggahannya, driver menulis, cuma kembaliannya kurang 100 perak, saya bilang kak maaf kembaliannya kurang 100 perak, anda bilang gpp, tapi anda memfitnah saya minta uang lebih dan membuat laporan.
Sampai berita ini ditulis, keterangan yang tersedia masih versi sepihak dari driver. Belum ada klarifikasi resmi dari penumpang berinisial Mvii maupun dari pihak aplikator terkait order RB-4392892-xxxx.
Redaksi menyatakan terbuka jika ada klarifikasi lanjutan dari kedua belah pihak. Posisi ini penting untuk menjaga asas berimbang.
Kasus Rp100 ini terlihat sepele. Namun di komunitas driver Gojek, Grab, ShopeeFood dan sejenisnya, pola serupa disebut sebagai fenomena gunung es.
Keluhan klasik yang berulang adalah laporan pelanggan langsung menjadi vonis. Driver merasa tidak mendapat ruang verifikasi sebelum sanksi dijatuhkan.
Sistem di aplikator memang mengenal dua jenis sanksi. Auto suspend adalah pengemudi akan dikenakan sanksi secara otomatis, dan manual suspend adalah pengemudi akan mendapatkan sanksi atas tindakan yang dilakukannya berdasarkan laporan pelanggan.
Secara prosedur, driver yang terkena sanksi dapat mengajukan banding. Bagi driver Gojek yang terkena suspend atas penilaian negatif pengguna jasa, banding bisa dilakukan dengan mendatangi kantor atau melalui aplikasi Go-Partner.
Masalahnya, menurut banyak mitra, banding itu datang setelah hukuman berjalan. Akun sudah terkena suspend, rating anjlok, insentif dipotong, bahkan berujung putus mitra.
Klarifikasi baru dilakukan belakangan. Situasi ini yang membuat driver menilai sistem belum tegak lurus.
Kode perjalanan RB-4392892-xxxx hingga kini masih menunggu klarifikasi resmi dari penumpang maupun aplikator.
Kronologi versi driver bermula di MOI Kelapa Gading pada 13 Oktober. Penumpang Mvii memesan GoCar dan dijemput di area mal.
Driver menyebut penumpang membuka pintu dengan kencang. Sapaan selamat sudah diberikan, namun respons penumpang dinilai jutek.
Ia tetap menjalankan tugas mengantar sampai tujuan. Tidak ada insiden selama perjalanan.
Persoalan muncul ketika transaksi tunai dilakukan. Selisih Rp100 menjadi pemicu laporan.
Driver menegaskan ia hanya menyampaikan kekurangan kembalian, bukan meminta tambahan. Penumpang sempat menjawab gpp sebelum laporan dibuat.
Unggahan di Threads dari akun @achmadsofyan1982 dilihat lebih dari 1.800 kali. Angka itu yang membuat cerita menyebar luas di kalangan mitra.
Redaksi mencatat, hingga berita disusun, belum ada bukti chat atau audio yang dihadirkan dari pihak penumpang. Belum ada pula pernyataan resmi dari aplikator.
Konteks tambahan yang muncul di komunitas adalah pola laporan serupa. Driver Gojek, Grab, hingga ShopeeFood mengaku pernah mengalami laporan yang berujung sanksi cepat.
Sistem auto suspend dan manual suspend menjadi rujukan utama dalam penindakan. Keduanya sama-sama bertumpu pada laporan pelanggan sebagai pemicu.
Jalur banding melalui kantor atau Go-Partner tersedia. Namun driver menilai jalur itu tidak menghentikan dampak awal dari sanksi.
Laporan pelanggan memiliki daya tekan besar dalam ekonomi gig. Klik tombol lapor hanya butuh 5 detik, tetapi dampaknya bagi driver bisa berarti tidak bisa narik seharian.
Satu laporan fiktif dapat membuat akun tidak aktif, pendapatan hilang, dan kebutuhan keluarga terganggu. Itulah yang membuat kasus Rp100 tidak bisa dilihat hanya dari nominalnya.
Asas praduga tak bersalah menjadi sorotan utama. Mitra driver bukan karyawan, melainkan mitra yang berhak dianggap tidak bersalah sampai ada bukti yang memadai.
Laporan pelanggan adalah satu alat bukti, bukan satu-satunya kebenaran. Data pembanding tersedia di aplikator.
Aplikator memiliki rekaman GPS, durasi perjalanan, histori chat di aplikasi, hingga riwayat laporan pelanggan tersebut. Verifikasi terhadap data itu dinilai harus dilakukan sebelum auto-suspend dijatuhkan.
Praktik yang pernah dilakukan Gojek saat kasus viral lain menjadi acuan. Aplikator melakukan penelusuran identitas dan verifikasi data perjalanan, menelaah bukti, serta memanggil pengemudi bersangkutan untuk meminta klarifikasi.
Standar klarifikasi dua arah sebelum sanksi itu yang diminta menjadi SOP untuk semua laporan, termasuk yang nominalnya kecil. Tujuannya agar keputusan tidak bertumpu pada satu versi.
Prinsip customer is always right tidak bisa diterapkan mentah-mentah di ekonomi gig. Kepercayaan 100 persen ke pelanggan tanpa filter dinilai sebagai ketidakadilan sistemik.
Aplikator seperti Gojek, Grab, dan Shopee telah membuka lapangan kerja bagi jutaan orang. Justru karena skala itu, konsistensi penegakan aturan menjadi kunci kepercayaan ekosistem.
Keadilan dalam konteks ini dimaknai sebagai kemauan mendengar keduanya sebelum memutuskan. Jika penumpang Mvii merasa ada pungutan liar, pembuktian melalui chat atau audio diperlukan.
Jika driver merasa difitnah, ruang pembelaan yang adil dan transparan perlu diberikan, bukan sekadar tombol banding setelah akun tidak aktif. Tegak lurus memang berat, tetapi itu satu-satunya cara agar ekosistem tetap dipercaya semua pihak.

