HEADLINNEWS.ID β Media sosial telah membuat siapa pun bisa menjadi komentator.
Satu peristiwa terjadi, potongan video muncul, lalu ribuan komentar menyusul. Ada yang tertawa, ada yang marah, ada yang mengkritik. Bahkan tidak jarang sebuah kalimat dipotong dari konteksnya, kemudian dijadikan senjata untuk menyerang seseorang.
Begitulah zaman kita.
Dan belakangan, Presiden Prabowo Subianto pun tidak luput dari situasi itu.
Dalam pidatonya di Gorontalo, 24 Juni 2026, Presiden sempat keceplosan mengucapkan kata yang kemudian menjadi sorotan. Ia bahkan meminta wartawan menghapus bagian tersebut. Tak lama kemudian, dengan gaya khasnya, ia mengatakan, βEmang gue pikirin,β sambil menegaskan bahwa sekarang ia ingin berbicara apa adanya.
Potongan ucapan itu kemudian beredar luas.
Ada yang menganggapnya lucu. Ada yang menganggapnya tidak pantas. Ada yang mengkritik gaya komunikasi Presiden. Ada pula yang menjadikannya bahan olok-olok.
Bagi saya, semuanya boleh.
Itulah demokrasi.
Tetapi ada batas yang menurut saya perlu kita jaga.
Mengkritik Presiden bukan berarti membenci Presiden.
Saya bisa mengatakan bahwa pilihan kata seorang Presiden tidak tepat.
Saya bisa mengatakan bahwa seorang kepala negara seharusnya lebih berhati-hati dalam berbicara.
Saya bahkan bisa tidak menyukai gaya komunikasi yang terlalu spontan.
Tetapi saya tidak perlu membenci orangnya.
Bukankah itu sikap yang jauh lebih sehat?
Seorang Presiden bukan manusia yang tidak boleh salah. Ia bisa salah bicara, bisa terpeleset memilih kata, bisa terbawa suasana.
Tetapi justru karena ia Presiden, setiap kata yang keluar dari mulutnya mempunyai konsekuensi yang lebih besar.
Karena itu, kritik terhadap gaya bicara Prabowo menurut saya sah.
Tegas boleh.
Lugas boleh.
Spontan boleh.
Tetapi tetap ada batas yang harus dijaga oleh siapa pun yang sedang berbicara atas nama negara.
Namun di sisi lain, kita sebagai masyarakat juga perlu belajar membedakan antara kritik dan kebencian.
Kritik bertanya: Apa yang salah?
Kebencian bertanya: Bagaimana caranya mempermalukan?
Kritik mencari perbaikan.
Kebencian mencari kepuasan.
Kritik menggunakan argumentasi.
Kebencian menggunakan ejekan.
Di media sosial, keduanya sering bercampur.
Seseorang mengaku sedang mengkritik, padahal yang dilakukan sebenarnya hanya menghina. Sebaliknya, ada pula yang begitu fanatik kepada seorang pemimpin sehingga kritik sekecil apa pun dianggap sebagai kebencian.
Saya tidak ingin berada di kedua tempat itu.
Saya ingin berdiri di tengah.
Bukan karena saya tidak punya sikap.
Justru karena saya punya sikap.
Saya ingin pemerintah berhasil. Saya ingin Presiden berhasil menjalankan amanahnya. Tetapi itu tidak berarti saya harus membenarkan semua ucapan dan kebijakannya.
Kalau ada yang salah, katakan salah.
Kalau ada yang benar, katakan benar.
Sesederhana itu.
Dan saya kira Presiden pun tidak perlu alergi terhadap kritik.
Seorang pemimpin yang kuat bukan pemimpin yang hanya mendengar tepuk tangan. Pemimpin yang kuat adalah pemimpin yang mampu mendengar suara yang tidak menyenangkan sekalipun.
Begitu pula rakyat.
Kita tidak harus membenci seseorang hanya karena berbeda pilihan politik.
Kita tidak harus mengubah perbedaan pilihan menjadi permusuhan.
Sebab setelah pemilu selesai, kita tetap tinggal di rumah yang sama bernama Indonesia.
Presidennya boleh berbeda dari pilihan kita.
Pemerintahannya boleh kita kritik.
Kebijakannya boleh kita perdebatkan.
Tetapi Indonesia tetap milik kita bersama.
Itulah sebabnya saya tidak tertarik menjadi bagian dari kerumunan yang setiap hari mencari kesalahan orang lain untuk ditertawakan.
Saya juga tidak ingin menjadi bagian dari kelompok yang menganggap pemimpinnya selalu benar.
Saya memilih jalan yang lebih sederhana:
menghormati tanpa memuja, mengkritik tanpa membenci.
Karena saya bukan pembenci.
Saya hanya seorang warga negara yang ingin melihat Indonesia berjalan ke arah yang lebih baik.
Kalau Presiden Prabowo salah bicara, saya akan mengatakan bahwa itu kurang tepat.
Kalau kebijakannya baik, saya akan mengapresiasinya.
Kalau kebijakannya perlu dikritik, saya akan mengkritiknya.
Tetapi saya tidak akan kehilangan rasa hormat kepada sesama anak bangsa hanya karena berbeda pandangan politik.
Sebab negeri ini terlalu besar untuk dipersempit menjadi pertengkaran di kolom komentar.
Dan Indonesia terlalu berharga untuk kita wariskan kepada generasi berikutnya dalam keadaan penuh kebencian.
Saya bukan pembenci.
Saya hanya ingin tetap kritis tanpa kehilangan akal sehat.
Tetap berbeda tanpa kehilangan persaudaraan.
Tetap berani menyampaikan kebenaran tanpa harus merendahkan orang lain.
Karena mencintai Indonesia tidak berarti harus selalu memuji pemerintah.
Dan mengkritik pemerintah tidak berarti harus membenci negaranya.
Saya memilih mencintai Indonesia dengan hati yang jernih.

Sudadi, yang akrab disapa Dadik, adalah wartawan senior, veteran Pasukan Perdamaian PBB Kontingen Garuda VIII/UNEF yang bertugas di Sinai, Timur Tengah, pada 1978β1979, serta veteran perdamaian. Saat ini, ia juga menjabat sebagai Pengurus Pusat LVRI dan Pemimpin Perusahaan Headlinenews.id.

