HEADLINNEWS.ID – Pernah nggak, tiba-tiba merasa harus beli sesuatu gara-gara banyak orang di TikTok atau Instagram bilang itu bagus banget? Produk kecantikan yang katanya bikin kulit auto glowing, gadget terbaru yang bikin hidup lebih mudah, atau fashion item yang wajib punya biar nggak ketinggalan zaman.
Tapi setelah beli, sadar kalau barangnya nggak se-wow itu. Uang keluar, tapi kepuasan yang didapat… biasa aja. Nah, di sinilah deinfluencing masuk.
Deinfluencing Itu Apa, Sih?
Deinfluencing adalah kebalikan dari influencing. Kalau biasanya influencer mendorong kita untuk beli produk, deinfluencing justru ngajak kita buat berpikir dua kali sebelum checkout. Bukan sekadar bilang, “Jangan beli ini!”, tapi lebih ke, “Eh, yakin ini beneran kamu butuhin?”
Tren ini muncul karena banyak orang mulai lelah dengan budaya konsumtif yang nggak ada habisnya. Setiap hari ada aja produk baru yang dipromosikan, seakan-akan hidup kita nggak akan lengkap tanpa barang itu. Padahal, sering kali kita cuma kena hype doang.
Kenapa Deinfluencing Jadi Tren?
Capek Jadi Korban Konsumerisme
Kita hidup di era di mana belanja jadi lebih gampang dari sebelumnya. Tinggal satu klik, besok barang sampai. Tapi semakin gampang belanja, semakin gampang juga kita merasa bersalah setelahnya. Apalagi kalau sadar barang yang dibeli nggak terlalu dipakai. Deinfluencing ngajak kita buat lebih mindful, nggak sekadar ikut-ikutan.
Lebih Sadar Finansial
Harga kebutuhan pokok makin naik, tapi godaan buat beli barang nggak penting juga nggak berkurang. Deinfluencing ngajak kita buat mikir: “Apakah aku benar-benar butuh ini, atau cuma tergoda karena iklan?”
Review yang Lebih Jujur
Jujur aja, banyak review produk di media sosial yang dibesar-besarkan karena sponsorship. Deinfluencing muncul sebagai bentuk perlawanan: ada orang-orang yang berani bilang, “Ini nggak sebagus yang kalian kira.”
Gaya Hidup Minimalis & Ramah Lingkungan
Semakin banyak orang sadar bahwa konsumsi berlebihan nggak cuma bikin kantong jebol, tapi juga merusak lingkungan. Fast fashion, misalnya, adalah salah satu penyumbang limbah terbesar di dunia. Deinfluencing ngajak kita buat lebih selektif dalam membeli sesuatu, memilih kualitas daripada kuantitas.
Contoh Deinfluencing di Dunia Nyata
Skincare & Makeup: Banyak produk mahal yang viral ternyata nggak cocok untuk semua orang. Kulit kita unik, jadi nggak perlu ikut-ikutan beli kalau nggak yakin cocok.
Gadget: Kalau HP yang sekarang masih oke, kenapa harus upgrade cuma karena model baru keluar?
Fashion: Bukannya nggak boleh beli baju baru, tapi kalau cuma dipakai sekali buat foto OOTD, worth it nggak?
Jadi, Haruskah Kita Stop Belanja?
Nggak, deinfluencing bukan berarti anti-belanja. Ini lebih ke smart shopping. Beli barang yang benar-benar dibutuhkan, yang berkualitas, dan yang bisa bikin hidup kita lebih baik dalam jangka panjang.
Sebelum checkout, coba tanya diri sendiri:
Apakah aku benar-benar butuh ini?
Apakah aku akan sering menggunakannya?
Apakah ada alternatif yang lebih murah atau lebih baik?
Kalau jawabannya “nggak yakin,” mungkin lebih baik tahan dulu.
Kesimpulan: Belanja dengan Hati, Bukan Sekadar FOMO
Di era digital, kita gampang banget kebawa tren. Tapi nggak semua yang viral harus kita punya. Deinfluencing ngajarin kita buat lebih sadar dalam mengonsumsi, lebih menghargai uang yang kita hasilkan, dan lebih peduli sama dampaknya terhadap lingkungan.
Jadi, next time ada produk yang katanya “wajib punya”, coba tanya dulu ke diri sendiri, “Ini beneran aku butuhin, atau cuma jebakan FOMO?”

