Kisah Negeri Penuh Caci Maki

Jayanto Arus Adi
By
Jayanto Arus Adi
Jayanto Arus Adi adalah wartawan senior, Ahli Pers Dewan Pers, asesor Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), serta alumni Pendidikan Penyiapan dan Pemantapan Pimpinan...
6 Min Read
Jayanto Arus Adi

HEADLINNEWS.ID – Kritik atau pernyataan Presiden Prabowo yang menyindir sejumlah pakar, karena saking pinternya jadi goblok menyulut kontroversi.

Ungkapan atau pernyataan sungsang serupa bukan baru kali ini diucapkan Presiden RI ke-8 Prabowo Subiyanto. Karenanya ini bukan sekadar bom, dan untuk memahami perlu logika ekstra melampaui akal seorang manusia biasa.

Bayangkan seorang Presiden, orang nomor satu di negeri ini yang diharapkan menjadi pelita kebajikan, oase keteduhan mengartikulasikan pernyataan yang justru melahirkan kontroversi luar biasa. Pantas saja seketika pertiwi ini sesak nafas, ibarat malam-malam mati lampu karena terjadi pemutusan arus mendadak oleh PLN.

Atau analogi yang lain adalah kereta yang melintasi terowongan seketika penumpang dibuat kaget karena tidak bisa melihat apa-apa.

‘’Pak Prabowo, Pak Prabowo, ada apa dengan Presiden kita ini. Sejak (konon) tidak akur dengan Gibran sering menguar ucapan yang memantik kegaduhan,’’ begitu thethet thuet di jagat media sosial.

Tak hanya netizen yang gemes, tokoh sekaliber Prof Mahfud MD tak luput ikut prihatin. Dia (Prof Mahfud) tak menampik ada profesor, atau pakar yang kapasitasnya di bawah standar alias tidak perform. Ada juga akademisi, peneliti, dan praktisi yang motifnya lebih mengedepankan materi dengan kata lain maju tak gentar membela yang bayar.

Namun, Mahfud juga menegaskan bahwa hal tersebut tidak bisa digeneralisasi ke seluruh akademisi, sebagaimana dalam dunia politik pun ada berbagai macam kualitas pemimpin.

‘Jangan karena nila setitik rusak susu sebelanga,” pepatah klasik itu setidaknya menjadi sebuah kredo yang perlu menjadi sandaran. Artinya sangat disayangkan orang nomor satu di negeri ini sampai ‘keprucut’ dengan ucapan seperti itu.

Jati diri ke-Indonesiaan

Hari-hari ini kita seperti mengalami disorientasi dan keblinger memahami fenomena yang melucuti jatidiri kebangsaan, jatidiri ke-Indonesiaan. Ada pepatah lain “guru kencing berdiri, murid kencing berlari.” Kalau sudah seperti itu mau dihela ke mana perahu besar bangsa Indonesia.

‘’Pak Prabowo, Pak Prabowo ada apa, atau kenapa dengan Pak Presiden. Ingatan kami masih lekat dengan janji-janji kampanye, jangan biarkan kepercayaan kami (rakyat) akhirnya tanggal,’’ begitu seru mahasiswa saat berorasi sebagai unjuk kepedulian atas nasib bangsa ini.

Mencermati dinamika juga warna-warni kehidupan berbangsa dan bernegara kita semua merasa terusik juga sesak.

Kita seperti sedang larut terjebak di dalam hutan atau lautan. Di dalam hutan, kita hanya melihat pohon, kiri, kanan, atas bawah, semua pohon. Kita terninabobo, tersandera, padahal di luar hutan, ada desa, ada kota, ada pasar malam, tobat-tobat…. Atau kita di dalam lautan, kiri, kanan, atas, bawah yang ada hanya air.

Sebegitu ekstremnya kita dipaksa untuk memahami anomali yang ganjil. Ungkapan-ungkapan plastis, utopis, seperti ‘Sik kepenak zamanku tho?!‘’ misalnya menjadi simbolisasi zaman gelap, zaman edan.

Naif, ajaib, tak masuk akal, kalau begitu kembali ke zaman batu saja.

Masak iya zaman kolonial lebih enak dari merdeka. ‘’Bingun, bingun (maksudnya bingung-red), mumet, mumet, amit amit (maaf) ngelu tenan ndasku, wis kabeh asu,’’ begitu tulis grafiti di bak truk yang melaju di jalanan Pantura. Ekspresi itu adalah serupa katarsis yang menjadi medium untuk meredakan ketegangan batin.

Mereka, lebih memilih cara damai (ahimsa) daripada ikut-ikutan mikir politik, lebih baik berkelakar jenaka, dan menuangkannya lewat grafiti di atas.

Maaf ada lagi ungkapan jenaka, saking tidak percayanya pada janji-janji penguasa, ‘’Waaah omongane, koyo (maaf) susune tonggoku, gedi, nyenengke ning ora iso dicekel,’’ begitu bunyinya.

Maaf tak bermaksud porno, atau kotor, sekali lagi itulah ekspresi tulisan di bak truk sebagai grafiti yang menggelitik.

Makna yang tersurat dari ungkapan itu, penguasa, pejabat, seringkali sekadar menguar janji-janji saja. Istilah milenialnya di-PHP, waduuuh gemblung, nggedabrus tenan!!

Sekali lagi, seperti ungkapan, “omongane koyo “susune tonggoku, gedi, nyenengke tapi ora iso dicekel.” Berani megang, woouww jangan, haram itu masuk kategori tindak asusila, pidana, bisa masuk penjara.

Pesan lanjut yang perlu menjadi sesanti penting adalah kembali ke khitah. Niati baik, tunaikan baik. Politisi jangan mudah obral janji, dan menebar pesona.

Sekarang jejak digital menjadi sebuah portofolio yang siapa pun akan mudah melacaknya. Apa janji Prabowo-Gibran, bagaimana omongan Nusron Wahid, atau juga apa kata Zulkifli Hasan.

Masyarakat belakangan lagi ramai mendengar atau membaca pernyataan Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas). Mantan besan Amien Rais yang pernah viral gara-gara memanggul beras bantuan saat jadi Menteri Perdagangan. tiba-tiba berartikulasi nyeleneh.

Dalam pidatonya pada Seminar Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Bandar Lampung awal September 2026 lalu misalnya, dia mengatakan, MBG dinilai gagal. Dia menyoroti anggaran yang dialokasikan sangat besar, dan sudah hampir dua tahun berjalan, berbagai kendala teknis dan masalah di lapangan—seperti kasus keracunan makanan—masih kerap terjadi.

Benar itu kritik sang pendukung setia Prabowo, tunggu dulu. Jadi, kata Zulhas, ada tapinya, yakni perlu ada evaluasi dan koreksi pada tata kelolanya. Kalau MBG-nya wouuuw program bagus, hebat, bahkan mandat penting untuk pemenuhan gizi anak-anak. Sampai di sini paham, yaaah kalau ndak paham, belajar lagi saja.

Satu hal lagi, andai pernyataan itu tidak keluar dari seorang Zulkifli Hasan, publik akan merespon positif. Kontroversi ini seperti mengaduk kembali ingatan publik tatkala Sang Menteri memanggul beras.

Kasihan amat Pak Zulhas sampai manggul-manggul juga. Ungkapan itu mengisyaratkan publik tak bisa dikelabui begitu saja.

Sama, ketika sekarang Sang Menko mengatakan program MBG dinilai gagal, apakah publik memercayainya. Jawabannya, pasti percaya, apalagi Zulhas siap mundur dari jabatan dan posisinya sebagai Menteri Koordinator Bidang Pangan, yang notabene ikut bertanggung jawab soal MBG. Tabik.

Jayanto Arus Adi, Wartawan Senior, Ahli Pers Dewan Pers, Asesor Uji Kompetensi Wartawan PWI Pusat, dan duduk sebagai Pengurus Pusat SMSI (Serikat Media Siber Indonesia) dan Plt Ketua SMSI Jateng. SMSI adalah salah satu konstituen Dewan Pers.

Tahun 2025 mengikuti PPNK Lemhanas RI Angkatan 227. Selain tetap aktif sebagai praktisi media, juga berkiprah sebagai konsultan media dan komunikasi. Ikut berkontribusi di Satu Pena (organisasi penulis yang dipimpin Denny JA).

Mengajar jurnalistik di beberapa kampus, juga aktif di MOJO (Mobile Jurnalis Indonesia) sebagai Ketua Umum Nasional. Saat ini tengah menempuh S3 (Program Doktoral) di Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Bidang yang dipilih adalah Prodi Pertanian, Komunikasi Agribisnis, dan Ketahanan Pangan.

Headlinnews.id adalah media online yang didirikan dan dinahkodai langsung sebagai CEO sekaligus Pemimpin Redaksi. Dengan tagline “Dari Jawa Tengah untuk Indonesia”, media ini didedikasikan menjadi oase bagi informasi alternatif, sekaligus lokomotif penggiat civil society.

Editor: HL-News
Share This Article
Jayanto Arus Adi adalah wartawan senior, Ahli Pers Dewan Pers, asesor Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), serta alumni Pendidikan Penyiapan dan Pemantapan Pimpinan Nasional (PPNK) Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia Angkatan 227 Tahun 2025. Selain aktif sebagai praktisi media, juga menjabat Pengurus Pusat Serikat Media Siber Indonesia (konstituen Dewan Pers) dan Pelaksana Tugas Ketua Umum SMSI Jawa Tengah. Turut berkiprah di Satu Pena, organisasi penulis yang dipimpin Deny JA. Mengajar jurnalistik di beberapa perguruan tinggi dan juga menahkodai Mobile Jurnalis (MOJO) Indonesia. Saat ini, Jayanto Arus Adi tengah menempuh Program Doktor (S3) di Universitas Jenderal Soedirman pada Program Studi Pertanian, dengan konsentrasi Komunikasi Agribisnis dan Ketahanan Pangan. Membidani dan terlibat langsung di Headlinnews.id sebagai Pemimpin Umum dan Pemimpin Redaksi. Dengan tagline "Dari Jawa Tengah untuk Indonesia", media ini didedikasikan sebagai oase informasi alternatif sekaligus lokomotif bagi penguatan gerakan civil society.
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!